Target Pendapatan Rp70 Triliun dan Ekspansi Produksi Jadi Katalis, IHSG Justru Terkoreksi Dalam

Aksi Korporasi Internasional Nasional Saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu dengan koreksi signifikan hingga 4,11% ke level 5.941,07, mencatatkan tekanan jual yang merata di seluruh sektor. Saham-saham seperti CASA, DSSA, dan BYAN masih menjadi penopang utama, namun tekanan terbesar justru datang dari BBCA, BBRI, dan AAMN. Kondisi ini diperparah oleh aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp864,07 miliar di pasar reguler dan total Rp993,29 miliar di seluruh pasar.

Tekanan di pasar domestik juga sejalan dengan sentimen eksternal yang kurang mendukung. Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah—Dow Jones turun 1,21%, S&P 500 terkoreksi 0,74%, dan Nasdaq menurun 0,89%. Selain itu, instrumen offshore Indonesia seperti ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing merosot 4,99% dan 4,10%, mencerminkan ekspektasi investor yang masih pesimistis terhadap prospek ekonomi ke depan.

Di tengah penurunan pasar, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) justru mengumumkan target pertumbuhan agresif pada 2026. Perusahaan menargetkan pendapatan sebesar Rp70 triliun, melonjak signifikan dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai Rp44,55 triliun. Laba bersih juga ditargetkan naik ke kisaran Rp1,4–1,5 triliun, dari sebelumnya Rp979,6 miliar. Untuk mencapai target tersebut, HRTA mematok produksi dan penjualan emas murni hingga 25 ton pada akhir 2026, dengan meningkatkan kapasitas pabrik terintegrasi dari 48 ton menjadi 60 ton per tahun. Kapasitas baru ini dialokasikan 30 ton untuk produksi perhiasan dan bullion, serta 30 ton untuk kegiatan pemurnian emas, guna merespons lonjakan permintaan.

Sementara itu, PT Jasa Tirta Perkasa Tbk (JTPE) memutuskan membagikan dividen tunai final sebesar Rp31 per saham untuk tahun buku 2025, dengan total alokasi dana mencapai Rp210,62 miliar atau setara 59,93% dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Besaran dividen ini telah memperhitungkan buyback sebanyak 57,72 juta saham yang dilakukan sejak Desember 2025 hingga Maret 2026. Adapun jadwal cum dividen ditetapkan pada 9 Juni 2026, dan pembayaran dilakukan pada 26 Juni 2026. Keputusan ini didukung oleh pertumbuhan kinerja perusahaan sepanjang 2025, di mana pendapatan meningkat 31,54% secara tahunan menjadi Rp2,78 triliun, dan laba bersih ikut terkerek naik. Langkah dividen dan buyback ini dinilai sebagai sinyal positif bagi investor di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *