Akuisisi Gagal, Saham Akzo Nobel Anjlok 17% dan Seret Bursa Eropa ke Zona Merah

Bursa saham Eropa melemah pada perdagangan pekan ini, tertekan oleh dua faktor utama: proposal tarif baru Amerika Serikat terhadap puluhan negara mitra dagang serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Indeks Stoxx 600 turun 0,5%, dengan mayoritas sektor berada di zona merah, sementara bursa utama London, Paris, Frankfurt, dan Milan juga ditutup melemah.

Tekanan terbesar datang dari saham Akzo Nobel, produsen cat asal Belanda yang dikenal melalui merek Dulux. Saham perusahaan tersebut anjlok hingga 17,2% setelah upaya akuisisi oleh Nippon Paint dan Sherwin-Williams resmi kandas. Sebelumnya, Akzo Nobel menolak tawaran akuisisi tunai senilai 73 euro per saham, dengan alasan proposal tersebut tidak mencerminkan nilai fundamental maupun prospek jangka panjang perusahaan. Manajemen juga menilai struktur transaksi yang diajukan tidak memberikan kepastian memadai terkait pemisahan bisnis serta perlindungan yang cukup bagi pemegang saham. Perusahaan kemudian mengonfirmasi bahwa kedua calon akuisisi telah menyatakan tidak lagi berminat melanjutkan penawaran publik.

Di sisi lain, saham Inditex, pemilik merek fesyen Zara, mencatatkan kenaikan lebih dari 1% setelah melaporkan kinerja kuartal pertama yang sesuai ekspektasi pasar. Penjualan perusahaan tumbuh 5,8% menjadi 8,7 miliar euro, sementara laba bersih meningkat 5,4% menjadi 1,38 miliar euro. Namun, kabar negatif datang dari Partners Group, perusahaan investasi asal Swiss, yang sahamnya jatuh 16,3% setelah mengumumkan pembatasan penarikan dana investor pada salah satu dana private equity miliknya. Langkah ini mencerminkan tekanan likuiditas yang juga mulai terlihat pada sektor kredit swasta di Amerika Serikat.

Sentimen pasar semakin terbebani oleh proposal baru dari Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) yang mengusulkan tarif tambahan hingga 12,5% terhadap 60 negara dan wilayah perdagangan. Washington menuduh sejumlah mitra dagangnya gagal mencegah masuknya produk yang diproduksi menggunakan tenaga kerja paksa, dengan negara terdampak potensial antara lain China, Uni Eropa, dan Jepang. Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyatakan bahwa kegagalan mitra dagang utama Amerika dalam menangani isu tersebut menciptakan persaingan yang tidak adil bagi pekerja AS. Uni Eropa langsung menolak alasan tersebut dan mengecam kebijakan tarif yang dinilai tidak berdasar.