Kinerja reksadana saham mengalami tekanan signifikan pada Mei 2026, mencatat koreksi terdalam di antara jenis reksadana lainnya. Berdasarkan data terbaru, reksadana saham merosot hingga 10,22% secara bulanan dan terkoreksi 17,66% sejak awal tahun. Sentimen risk-off global yang dipicu oleh kenaikan imbal hasil US Treasury di atas ekspektasi serta tertundanya pemangkasan suku bunga The Fed menjadi pemicu utama. Kondisi ini mendorong penguatan indeks dolar AS dan memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di dalam negeri, tekanan semakin terasa dengan pelemahan nilai tukar rupiah, penurunan minat investor asing, dan aksi jual akibat rebalancing MSCI pada saham berkapitalisasi besar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun ikut tertekan, memperburuk kinerja reksadana saham dan campuran yang memiliki eksposur tinggi ke ekuitas. Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan, menambahkan bahwa faktor likuiditas perdagangan, tingkat free float emiten, serta ketidakpastian kebijakan sektor komoditas turut memperdalam koreksi.
Sementara itu, reksadana pasar uang justru menunjukkan ketahanan dengan imbal hasil positif 0,27% secara bulanan dan tumbuh 1,60% year to date. Dukungan suku bunga domestik yang tinggi serta stabilitas instrumen pasar uang menjadi andalan. Reksadana pendapatan tetap juga masih mencatat kenaikan tipis 0,22% bulanan, meskipun secara akumulasi sejak awal tahun masih terkoreksi 0,62% akibat volatilitas imbal hasil Surat Utang Negara.
Ke depan, peluang rebound reksadana saham terbuka jika terdapat sinyal pemangkasan suku bunga The Fed yang lebih jelas, yang dapat meredakan tekanan global. Namun, volatilitas masih membayangi, terutama mengingat ketidakpastian kebijakan moneter domestik dan tensi geopolitik. Investor disarankan untuk tetap waspada dan mempertimbangkan diversifikasi ke instrumen yang lebih defensif seperti reksadana pasar uang atau pendapatan tetap jangka pendek sambil menunggu momentum perbaikan pasar ekuitas.