Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, secara resmi menjadwalkan penawaran umum perdana atau IPO di bursa Nasdaq pada Jumat, 12 Juni 2026. Aksi korporasi ini diproyeksikan menjadi IPO terbesar dalam sejarah pasar modal global dengan target penghimpunan dana mencapai 75 miliar dolar AS. Nilai kapitalisasi pasar perusahaan diperkirakan melesat hingga 1,8 triliun dolar AS, melampaui
Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, secara resmi menjadwalkan penawaran umum perdana atau IPO di bursa Nasdaq pada Jumat, 12 Juni 2026. Aksi korporasi ini diproyeksikan menjadi IPO terbesar dalam sejarah pasar modal global dengan target penghimpunan dana mencapai 75 miliar dolar AS. Nilai kapitalisasi pasar perusahaan diperkirakan melesat hingga 1,8 triliun dolar AS, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang Saudi Aramco yang mengumpulkan 29,4 miliar dolar AS pada 2019.
Manajemen SpaceX menawarkan sebanyak 555,6 juta lembar saham dengan harga pelaksanaan flat sebesar 135 dolar AS per saham, sebuah langkah yang dinilai tidak biasa oleh pelaku pasar karena umumnya proses IPO menggunakan rentang harga. Perusahaan berencana melepas sekitar 4,3 persen sahamnya untuk kepemilikan publik atau free float. Dana hasil IPO akan digunakan untuk mendukung belanja modal di sektor bisnis antariksa, jaringan internet satelit Starlink, serta pengembangan teknologi kecerdasan buatan pasca-merger dengan xAI.
Laporan keuangan tahun 2025 menunjukkan pendapatan SpaceX tumbuh 33 persen menjadi 18,67 miliar dolar AS, meskipun perusahaan masih mencatatkan rugi bersih sebesar 4,94 miliar dolar AS. Meski belum profit, investor diprediksi tetap antusias mengingat potensi pertumbuhan jangka panjang di industri antariksa dan dominasi SpaceX di pasar peluncuran satelit.
Dari sisi struktur kepemilikan, Elon Musk tetap memegang kendali penuh atas perusahaan dengan penguasaan sekitar 82,4 persen hak suara melalui skema saham khusus. Nilai kepemilikan sahamnya pasca-IPO diperkirakan mencapai 841 miliar dolar AS. Sementara itu, S&P Global menegaskan SpaceX belum bisa masuk ke indeks S&P 500 karena terganjal syarat profitabilitas kumulatif empat kuartal terakhir. Namun, perusahaan berpeluang masuk lebih cepat ke indeks Nasdaq-100 dan Russell U.S. Equity Indexes berkat adanya pelonggaran aturan masa tunggu bagi emiten berkapitalisasi besar.













Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *