IHSG Menguat 1,11% di Awal Juni, Musim Cum Dividen Jadi Katalis Pasar

Aksi Korporasi Emiten Nasional Riset Saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026, dengan ditutup di level 6.195,43 atau naik 1,11% secara harian. Kenaikan ini menjadi awal yang positif setelah tekanan tajam pada bulan sebelumnya, di mana IHSG sempat merosot lebih dari 11% sepanjang Mei. Kondisi ini mendorong investor untuk mencermati momentum musim pembagian dividen yang mulai berlangsung pada awal Juni.

Sejumlah emiten dijadwalkan memasuki masa cum dividen tunai mulai Rabu, 3 Juni 2026. Cum dividen merupakan periode akhir di mana saham masih mengandung hak dividen, sehingga investor yang ingin mendapatkan dividen wajib membeli saham selambat-lambatnya pada tanggal tersebut dan menyimpannya hingga tanggal pencatatan. Terdapat 13 emiten yang akan melaksanakan cum dividen pada hari itu, termasuk SCMA dengan nilai dividen Rp12 per saham. Sektor yang terlibat mencakup komoditas batu bara, BUMN, perbankan, hingga consumer goods.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai daya tarik utama saham dividen terletak pada dividend yield. Beberapa emiten menawarkan yield di atas rata-rata pasar yang berada di kisaran 3% hingga 5%. Contoh menonjol adalah INTP yang memiliki yield di atas 9%, atau empat kali lipat dari bunga deposito rupiah di bank umum yang saat ini hanya sekitar 2%. Sementara itu, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menambahkan bahwa musim dividen dapat menjadi sentimen positif bagi pasar, namun faktor arus dana asing, rebalancing indeks MSCI dan FTSE, serta pergerakan rupiah tetap menjadi penentu utama arah IHSG.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, mengingatkan investor agar tidak tergoda membeli saham hanya karena mendekati cum date. Secara historis, harga saham cenderung turun saat ex-date setidaknya sebesar nilai dividen teoritis. Ia menyarankan investor untuk memilih saham dengan fundamental kuat, likuiditas baik, dan rekam jejak pembagian dividen yang konsisten. Sebagai strategi jangka pendek, Harry Su merekomendasikan pembelian saham incaran sekitar dua minggu hingga tujuh hari sebelum cum date.

Di sisi lain, investor juga perlu mewaspadai potensi dividend trap—terutama pada saham dengan yield tinggi namun fundamental rapuh. Dengan volatilitas pasar yang masih tinggi, pendekatan selektif dan disiplin dalam analisis fundamental menjadi kunci untuk memanfaatkan musim dividen tanpa terjebak risiko jangka pendek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *