Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan akhir pekan lalu, merosot 4,20% ke level 5.594,76. Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor, dengan sektor transportasi menjadi yang terburuk setelah terkoreksi hingga 5,97%. Pelemahan saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Telkom
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan akhir pekan lalu, merosot 4,20% ke level 5.594,76. Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor, dengan sektor transportasi menjadi yang terburuk setelah terkoreksi hingga 5,97%. Pelemahan saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi pemberat utama indeks. Di sisi lain, saham PT Surya Citra Media Tbk (SMMA), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Emas Antam Indonesia Tbk (EMAS) mencatat penguatan dan menjadi penopang terbatas.
Aktivitas investor asing menunjukkan aksi jual bersih senilai Rp3,72 triliun di pasar reguler dan Rp3,73 triliun di seluruh pasar. Sentimen global turut memperberat, di mana bursa Amerika Serikat ditutup melemah signifikan: Dow Jones turun 1,35%, S&P 500 terkoreksi 2,64%, dan Nasdaq ambles 4,18%. Pelaku pasar kini mencermati rilis data cadangan devisa Indonesia pekan ini, mengingat posisi April 2026 sebesar US$146,20 miliar lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Jika penurunan berlanjut, hal ini dapat mengancam ketahanan nilai tukar rupiah, tercermin dari koreksi ETF EIDO sebesar 6,34% dan indeks MSCI Indonesia sebesar 4,11%.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah emiten mengumumkan langkah strategis. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berencana melakukan pembelian kembali saham (buyback) maksimal Rp4 triliun yang akan didanai dari kas internal perusahaan. Hingga akhir kuartal I-2026, TLKM mengantongi kas Rp37,55 triliun, meningkat dari Rp34,23 triliun pada akhir 2025. Langkah ini diharapkan mampu menopang harga saham yang tertekan dalam jangka pendek.
Sementara itu, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berhasil mengamankan pendanaan internasional senilai US$477,87 juta setelah tiga proyek panas buminya masuk dalam Green Book 2026. Proyek tersebut meliputi PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW), PLTP Lumut Balai Unit 4 (55 MW), dan PLTP Lahendong Unit 7-8 (50 MW). Perseroan menargetkan unit 3 dan Lahendong 7-8 beroperasi pada 2030, sedangkan Lumut Balai Unit 4 pada 2032. Meski demikian, saham PGEO masih dalam tren penurunan dengan area pemantauan di kisaran Rp780 per saham.
Di sisi lain, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) melalui anak usahanya, PT PGN Saka Energi Indonesia (PSAB), berencana membagikan dividen jumbo kepada pemegang saham. Keputusan ini diambil seiring dengan membaiknya kinerja keuangan perusahaan di tengah fluktuasi harga komoditas energi. Para analis menilai langkah ini akan memberikan sentimen positif bagi saham-saham energi di bursa, meskipun tekanan makro masih membayangi pergerakan IHSG secara keseluruhan.














Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *