728 x 90

IPO SpaceX Berpotensi Ciptakan Miliuner Baru dari Kalangan Pekerja, Namun Risiko Pasca-Pencatatan Mengintai

IPO SpaceX Berpotensi Ciptakan Miliuner Baru dari Kalangan Pekerja, Namun Risiko Pasca-Pencatatan Mengintai

Proses penawaran umum perdana (IPO) SpaceX yang akan datang tidak hanya menjadi sorotan karena skalanya yang fenomenal, tetapi juga karena kisah nyata para pekerjanya yang berpotensi meraih kekayaan luar biasa. Seorang mantan tukang las imigran asal Meksiko, Juan Hernandez, dilaporkan memiliki saham perusahaan antariksa tersebut senilai sekitar US$880.000 menjelang listing. Kekayaan itu berasal dari hibah

Proses penawaran umum perdana (IPO) SpaceX yang akan datang tidak hanya menjadi sorotan karena skalanya yang fenomenal, tetapi juga karena kisah nyata para pekerjanya yang berpotensi meraih kekayaan luar biasa. Seorang mantan tukang las imigran asal Meksiko, Juan Hernandez, dilaporkan memiliki saham perusahaan antariksa tersebut senilai sekitar US$880.000 menjelang listing. Kekayaan itu berasal dari hibah ekuitas senilai US$10.000 yang diterimanya pada 2015 saat ia mulai bekerja sebagai kontraktor dengan upah US$28 per jam. Setelah menjadi pegawai tetap, Hernandez terus mengakumulasi saham melalui program kepemilikan saham karyawan selama lima tahun, sebagian bahkan dijual pada 2020 untuk membeli properti. Kini, saham yang tersisa tumbuh signifikan seiring dengan valuasi perusahaan yang meroket.

Rencana IPO SpaceX menjadi salah satu yang paling dinantikan di pasar modal global. Perusahaan akan menjual 555,6 juta lembar saham di Nasdaq dengan kode SPCX, dengan harga US$135 per saham. Target dana yang dihimpun mencapai US$75 miliar, menempatkan valuasi SpaceX mendekati US$1,77 triliun. Jika berhasil, ini akan menjadi IPO terbesar dalam sejarah pasar saham. Besarnya valuasi ini tidak lepas dari posisi dominan SpaceX dalam industri antariksa komersial, termasuk kontrak pemerintah dan proyek ambisius seperti misi ke Mars.

Meski euforia IPO tampaknya menguntungkan banyak pihak, para analis pasar justru memberikan peringatan keras. Joshua Roberts, koresponden pasar modal di The Economist, menekankan bahwa IPO sering kali menjadi investasi yang buruk bagi investor ritel biasa. Menurutnya, ekspektasi tinggi sebelum pencatatan kerap tidak sejalan dengan kinerja setelah listing. Riset dari profesor University of Florida, Jay Ritter, juga menunjukkan bahwa saham perusahaan yang baru go public cenderung tertinggal dari indeks pasar luas dalam tiga tahun pertama setelah pencatatan. Momen terbaik bagi penjual saham belum tentu menjadi momen terbaik bagi pembeli.

Selain itu, struktur kepemilikan dan aturan perdagangan pasca-IPO juga perlu dicermati. Periode lock-up bagi karyawan dan pemegang saham internal, termasuk CEO Elon Musk, masih berlaku penuh setelah listing. Hal ini berpotensi menahan tekanan jual di awal, namun risiko koreksi harga bisa muncul ketika lock-up berakhir. Investor eksternal juga dihadapkan pada keterbatasan akses ritel melalui platform seperti Fidelity. Dengan demikian, meskipun IPO SpaceX menjanjikan kisah sukses bagi segelintir pekerja seperti Hernandez, investor harus waspada terhadap potensi volatilitas dan underperformance dalam jangka menengah hingga panjang.

Avatar photo
Eins AI
EDITOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos