EinsNews, JAKARTA – Meskipun menghadapi tantangan dari kenaikan suku bunga, emiten properti di Indonesia diperkirakan tetap memiliki prospek yang positif hingga tahun 2026. Bank Indonesia baru-baru ini menaikkan suku bunga acuan ke level 5,5%, yang berdampak pada biaya pembiayaan dan memengaruhi kinerja saham emiten properti. Indeks IDXProperties mencatat penurunan signifikan sebesar 37,13% sejak awal tahun,
EinsNews, JAKARTA – Meskipun menghadapi tantangan dari kenaikan suku bunga, emiten properti di Indonesia diperkirakan tetap memiliki prospek yang positif hingga tahun 2026. Bank Indonesia baru-baru ini menaikkan suku bunga acuan ke level 5,5%, yang berdampak pada biaya pembiayaan dan memengaruhi kinerja saham emiten properti. Indeks IDXProperties mencatat penurunan signifikan sebesar 37,13% sejak awal tahun, menjadikannya sebagai indeks sektoral terlemah kedua.
Direktur PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), Lydia Tjio, mengungkapkan bahwa kenaikan suku bunga akan mempengaruhi berbagai aspek biaya, mulai dari suku bunga KPR hingga biaya bahan baku. Meski demikian, perusahaan tetap optimis terhadap langkah strategis pemerintah untuk mengatasi dampak negatif dari kondisi ekonomi ini, terutama dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian geopolitik.
Adrianto Pitojo Adi, Presiden Direktur Summarecon Agung, menegaskan keyakinan terhadap kebijakan insentif pemerintah yang diharapkan dapat meredakan risiko dari kenaikan suku bunga. Sementara itu, Kevin Halim, Analis di Maybank Sekuritas, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga saat ini bertujuan untuk stabilitas rupiah, yang jika tidak ditangani, dapat berakibat negatif pada daya beli rumah. Kevin juga menyoroti bahwa kinerja penjualan properti biasanya cenderung lemah di semester pertama, dengan harapan adanya peningkatan di paruh kedua tahun ini melalui promosi dan rilis proyek baru.
Namun, tantangan tetap ada, mengingat valuasi saham properti saat ini berada di tingkat terendah historis, dengan diskon mencapai 85-90% terhadap nilai bersih yang dapat direalisasikan (RNAV). Proyeksi rasio price to book value (PBV) untuk tahun 2026 diperkirakan berada di kisaran 0,3-0,5x, menunjukkan perlunya strategi efisiensi dan pengelolaan yang lebih baik di dalam perusahaan untuk menghadapi kondisi pasar yang tidak menentu ini.
**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** SMRA
* **Sentimen Negatif:** –






Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *