EinsNews, JAKARTA — Dalam beberapa tahun terakhir, pasar modal Indonesia menunjukkan tanda-tanda perubahan signifikan, terutama terkait dengan pergantian pemegang saham pengendali (PSP) yang semakin marak. Fenomena ini muncul di tengah penurunan aktivitas Initial Public Offering (IPO), yang mencatatkan realisasi terendah dalam delapan tahun terakhir. Meskipun tahun 2023 menjadi tahun yang cukup baik dengan 79 perusahaan
EinsNews, JAKARTA — Dalam beberapa tahun terakhir, pasar modal Indonesia menunjukkan tanda-tanda perubahan signifikan, terutama terkait dengan pergantian pemegang saham pengendali (PSP) yang semakin marak. Fenomena ini muncul di tengah penurunan aktivitas Initial Public Offering (IPO), yang mencatatkan realisasi terendah dalam delapan tahun terakhir. Meskipun tahun 2023 menjadi tahun yang cukup baik dengan 79 perusahaan melaksanakan IPO, tren ini berbalik drastis dengan hanya 41 perusahaan pada tahun 2024 dan hanya 26 perusahaan pada tahun 2025. Hingga kuartal kedua tahun ini, baru satu perusahaan yang berhasil melakukan pencatatan saham perdana.
Salah satu contoh terbaru dari pergantian kepemilikan adalah PT Prime Agri Resources Tbk. (SGRO), yang sebelumnya dikenal sebagai Sampoerna Agro. Perusahaan ini mengalami transisi kepemilikan dari Twinwood Family Holdings ke AGPA Pte. Ltd., anak usaha POSCO International, dengan nilai transaksi mencapai Rp9,44 triliun. Kejadian ini mencerminkan kecenderungan perusahaan untuk mencari alternatif dalam memasuki pasar modal di tengah ketidakpastian yang melanda aktivitas IPO.
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, menjelaskan bahwa fenomena pergantian pengendali dan meningkatnya aksi backdoor listing berkaitan erat dengan kondisi pasar yang belum sepenuhnya stabil. Perusahaan-perusahaan cenderung memilih jalur backdoor listing sebagai solusi yang lebih cepat dan fleksibel dibandingkan IPO yang kompleks. Meskipun backdoor listing menawarkan sejumlah keuntungan, seperti proses yang lebih sederhana dan fleksibilitas dalam restrukturisasi, biaya yang terkait dengan metode ini bisa lebih tinggi secara implisit.
David juga menyoroti bahwa emiten dengan saham yang terdiskon, terutama yang berada di papan pemantauan khusus, sering kali menjadi target backdoor listing. Hal ini disebabkan oleh valuasi yang rendah dan struktur kepemilikan yang lebih mudah diambil alih. Ke depan, tren ini diperkirakan akan terus berlanjut, terutama selama pasar IPO belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan, sehingga perusahaan akan terus mencari cara alternatif untuk masuk ke dalam bursa.






Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *