Fenomena backdoor listing tengah mencuri perhatian di pasar modal Indonesia, mencerminkan perubahan strategi perusahaan dalam menghadapi lesunya aktivitas initial public offering (IPO). Dalam dua tahun terakhir, jumlah emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan penurunan signifikan, dari 79 IPO yang tercatat pada 2023 menjadi hanya 26 perusahaan di 2025. Memasuki kuartal II tahun
Fenomena backdoor listing tengah mencuri perhatian di pasar modal Indonesia, mencerminkan perubahan strategi perusahaan dalam menghadapi lesunya aktivitas initial public offering (IPO). Dalam dua tahun terakhir, jumlah emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan penurunan signifikan, dari 79 IPO yang tercatat pada 2023 menjadi hanya 26 perusahaan di 2025. Memasuki kuartal II tahun 2026, hanya satu perusahaan yang berhasil mencatatkan saham perdana, menandakan ketidakpastian yang melanda pasar.
Sejumlah pelaku usaha kini beralih ke jalur alternatif dengan melakukan akuisisi terhadap emiten yang telah terdaftar di bursa. Contoh nyata dari tren ini adalah PT Prime Agri Resources Tbk. yang baru saja mengalami pergantian pengendali dari Twinwood Family Holdings kepada AGPA Pte. Ltd., yang merupakan anak usaha POSCO International. Transaksi ini dilakukan pada harga Rp7.903 per saham, dengan total nilai mencapai Rp9,44 triliun, dan menunjukkan bahwa investor strategis mulai melirik mekanisme non-IPO sebagai solusi.
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, menyoroti bahwa kondisi pasar yang belum sepenuhnya kondusif bagi IPO mendorong perusahaan mencari opsi yang lebih cepat dan fleksibel. Backdoor listing menawarkan sejumlah keuntungan, seperti proses yang lebih cepat dan kurang kompleks dibandingkan dengan IPO. Namun, ia juga mengingatkan bahwa jalur ini memiliki biaya implisit yang lebih tinggi dan umumnya lebih menarik bagi perusahaan dengan aset yang substansial.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menambahkan bahwa melemahnya pasar IPO dalam dua tahun terakhir memberikan peluang bagi aksi backdoor listing untuk berkembang. Emiten dengan harga saham di bawah Rp50 dan terdaftar di papan pemantauan khusus sering kali menjadi target akuisisi, berfungsi sebagai kendaraan bagi investor untuk memasuki pasar.
Dengan melihat tren ini, jelas bahwa perusahaan dan investor sedang beradaptasi dengan kondisi pasar yang menantang, mencari jalan keluar inovatif demi mencapai pertumbuhan dan ekspansi di tengah hambatan yang ada.






Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *