EinsNews, JAKARTA – Kinerja rata-rata return unitlink berbasis saham mengalami kontraksi terdalam di antara produk investasi lainnya. Data dari lembaga riset mencatat bahwa secara year to date (YTD) hingga Mei 2026, return unitlink saham terkontraksi sebesar 8,76%, lebih dalam dibandingkan kontraksi 4,75% pada April 2026. Kepala Riset lembaga tersebut menjelaskan bahwa tekanan terhadap unitlink saham
EinsNews, JAKARTA – Kinerja rata-rata return unitlink berbasis saham mengalami kontraksi terdalam di antara produk investasi lainnya. Data dari lembaga riset mencatat bahwa secara year to date (YTD) hingga Mei 2026, return unitlink saham terkontraksi sebesar 8,76%, lebih dalam dibandingkan kontraksi 4,75% pada April 2026.
Kepala Riset lembaga tersebut menjelaskan bahwa tekanan terhadap unitlink saham berasal dari sejumlah faktor negatif, termasuk rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), pelemahan kurs rupiah, perubahan kebijakan pemerintah, serta volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih tinggi. Kondisi ini membuat pasar modal Indonesia belum mampu memberikan dorongan positif bagi produk unitlink yang berbasis saham domestik.
Prospek unitlink saham ke depan dinilai masih berat. Menurut analis, selama IHSG masih melemah, sulit bagi unitlink saham yang portofolionya banyak dialokasikan ke dalam negeri untuk membukukan return positif. Namun, unitlink saham dalam denominasi dolar AS yang investasinya ke luar negeri masih mencatatkan kinerja positif yang signifikan.
Sementara itu, unitlink berbasis campuran juga tertekan dengan rata-rata return terkontraksi 6,17% per Mei 2026, disusul unitlink pendapatan tetap yang terkontraksi 0,88%. Satu-satunya kategori yang mencatatkan kinerja positif adalah unitlink pasar uang dengan rata-rata return 1,31% per Mei 2026.
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,25% menjadi katalis utama yang mendorong kinerja positif unitlink pasar uang. Analis memperkirakan tren positif tersebut masih dapat berlanjut mengingat suku bunga yang lebih tinggi menguntungkan instrumen pasar uang. Dengan demikian, investor yang mengincar stabilitas imbal hasil dapat mempertimbangkan alokasi ke produk ini di tengah ketidakpastian pasar saham.















Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *