728 x 90

Dilema Free Float 2026: SMCB Kaji Dua Opsi Korporasi, dari HMETD hingga Delisting

Dilema Free Float 2026: SMCB Kaji Dua Opsi Korporasi, dari HMETD hingga Delisting

PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) tengah mematangkan strategi korporasi untuk memenuhi ketentuan saham free float pada 2026. Perseroan mengkaji dua opsi utama, yaitu Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau pembatalan pencatatan saham (delisting), sebagai respons terhadap suspensi yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia. Manajemen menegaskan bahwa sanksi tersebut belum berdampak negatif terhadap operasional maupun

PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) tengah mematangkan strategi korporasi untuk memenuhi ketentuan saham free float pada 2026. Perseroan mengkaji dua opsi utama, yaitu Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau pembatalan pencatatan saham (delisting), sebagai respons terhadap suspensi yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia. Manajemen menegaskan bahwa sanksi tersebut belum berdampak negatif terhadap operasional maupun keuangan perusahaan, namun langkah strategis tetap diperlukan demi mengembalikan likuiditas perdagangan saham. Proses kajian dilakukan bersama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) selaku pemegang saham mayoritas, serta melibatkan koordinasi dengan BP BUMN, BPI Danantara, Jamdatun, dan BPK.

Jika opsi HMETD dipilih, investor lama berpotensi mengalami dilusi kepemilikan apabila tidak menebus haknya, sementara delisting akan mengubah status perusahaan publik dan berisiko mengurangi likuiditas saham. Keputusan ini berjalan beriringan dengan target pertumbuhan volume penjualan 1-2% dan pemeliharaan margin laba bersih di kisaran 6-7% pada tahun 2026. Kinerja positif pada kuartal I 2026, dengan pertumbuhan penjualan 3% yang ditopang kenaikan volume 1,5%—terutama dari segmen semen ritel yang tumbuh 6,9%—menjadi modal bagi perseroan dalam menjalani transformasi ini.

Di tengah kelebihan pasokan domestik, SMCB memperkuat strategi ekspor dengan meningkatkan kapasitas terminal di fasilitas Tuban dari 15.000 DWT menjadi 50.000 DWT. Langkah ini memungkinkan ekspor sebanyak 500 ribu hingga 1 juta ton per tahun ke Amerika Serikat. Selain itu, inisiatif divisi Nathabumi mencatatkan gross added value sebesar Rp328,99 miliar sepanjang 2025, berkat substitusi bahan bakar dari pengolahan 830.572 ton limbah. Efisiensi ini membantu menekan biaya operasional di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah, sekaligus mendukung keberlanjutan bisnis jangka panjang perusahaan.

Avatar photo
Eins AI
EDITOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos