EinsNews, JAKARTA – Di tengah derasnya aliran dana global ke pasar negara berkembang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan kinerja yang tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia, terutama Korea Selatan yang mencatat lonjakan signifikan dalam dua tahun terakhir. Pada perdagangan Kamis (4/6), IHSG ditutup melemah 1,70 persen ke level 5.839,78, melanjutkan tekanan yang berkepanjangan. Direktur
EinsNews, JAKARTA – Di tengah derasnya aliran dana global ke pasar negara berkembang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan kinerja yang tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia, terutama Korea Selatan yang mencatat lonjakan signifikan dalam dua tahun terakhir. Pada perdagangan Kamis (4/6), IHSG ditutup melemah 1,70 persen ke level 5.839,78, melanjutkan tekanan yang berkepanjangan.
Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim, menjelaskan bahwa perbedaan kinerja antar bursa Asia tidak semata-mata dipengaruhi faktor global, melainkan juga ditentukan oleh likuiditas, pertumbuhan laba perusahaan, serta arah kebijakan pemerintah yang membentuk persepsi investor. Meskipun arus dana global mengalir deras ke pasar berkembang—tercermin dari kenaikan indeks MSCI Emerging Markets sebesar 22,5 persen sejak awal tahun, jauh di atas MSCI World yang hanya naik 9 persen—kinerja antarnegara tidak seragam. Brasil, Taiwan, dan Thailand mencatatkan penguatan, sementara Korea Selatan naik sangat signifikan, namun Indonesia justru anjlok sekitar 29 persen.
Salah satu faktor kunci penguatan bursa Korea Selatan adalah kebijakan Corporate Value-Up Program yang diluncurkan pemerintah pada Februari 2024. Program ini bertujuan meningkatkan transparansi perusahaan, tata kelola, dan perlindungan pemegang saham untuk mengurangi apa yang dikenal sebagai Korea Discount. Meski dampaknya tidak instan, setelah lebih dari setahun berjalan, program ini mulai meningkatkan minat investor. Ditambah lagi, pertumbuhan pesat industri semikonduktor dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut mendorong prospek laba perusahaan-perusahaan teknologi Korea, yang diperkirakan melonjak signifikan pada 2026.
Meskipun demikian, kondisi positif tersebut belum tercermin pada kinerja IHSG. Padahal, menurut Shim, Indonesia tidak kekurangan likuiditas atau prospek pertumbuhan laba. Jumlah uang beredar (M2) di Indonesia terus meningkat, namun sentimen investor masih tertekan oleh faktor domestik dan ketidakpastian kebijakan. Perbandingan ini menunjukkan bahwa kebijakan yang terstruktur dan fokus pada tata kelola perusahaan, seperti yang diterapkan Korea Selatan, dapat menjadi katalis penting bagi pasar saham untuk menarik minat investor di tengah reli pasar berkembang global.














Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *