Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 5.594,76 pada awal Juni 2026—terkoreksi 35,3% secara year to date—telah menimbulkan dampak yang sangat bervariasi terhadap laporan keuangan emiten sektor investasi dan holding di Indonesia. Beberapa perusahaan mencatatkan kerugian besar dari perubahan nilai wajar investasi, sementara yang lain justru berhasil mengantongi keuntungan signifien di tengah volatilitas pasar.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 5.594,76 pada awal Juni 2026—terkoreksi 35,3% secara year to date—telah menimbulkan dampak yang sangat bervariasi terhadap laporan keuangan emiten sektor investasi dan holding di Indonesia. Beberapa perusahaan mencatatkan kerugian besar dari perubahan nilai wajar investasi, sementara yang lain justru berhasil mengantongi keuntungan signifien di tengah volatilitas pasar.
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) mencatat rugi atas investasi neto sebesar Rp1,13 triliun pada kuartal I-2026. Kondisi serupa dialami PT Astra International Tbk (ASII) yang membukukan arus keluar Rp485 miliar dari perubahan nilai wajar investasi lain-lain per Maret 2026, serta PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan kerugian belum direalisasi sebesar Rp309 miliar. Sebaliknya, PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) justru meraup keuntungan neto atas investasi saham dan efek ekuitas lain mencapai Rp2,43 triliun, didukung kepemilikan signifikan di PT Merdeka Battery Materials Tbk dan PT Merdeka Copper Gold Tbk.
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) memilih strategi jangka panjang di tengah ketidakpastian. Berdasarkan laporan keuangan 2025, perseroan membukukan keuntungan neto atas investasi saham sebesar Rp4,13 triliun, dengan portofolio mencakup saham blue-chip seperti TBIG, MDKA, ADRO, dan AADI. Investor Relations Saratoga, Mellisa Holidi, menegaskan bahwa fokus perusahaan adalah optimalisasi nilai portofolio, efisiensi operasional, dan penguatan fundamental di seluruh anak usaha. Sektor yang menjadi target meliputi layanan kesehatan, energi terbarukan, infrastruktur digital, dan konsumen.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa fase penurunan IHSG kini mulai terbatas karena posisi indeks yang sudah tergolong undervalue. Menurutnya, tekanan jual yang berlebihan justru membuka peluang akumulasi bagi investor dengan horizon jangka panjang, terutama pada emiten dengan fundamental kokoh dan prospek pertumbuhan yang jelas. Pasar kini menanti katalis positif dari kebijakan ekonomi dan pemulihan likuiditas domestik.














Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *