EinsNews, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan Kamis (4/6/2026), ditutup ambles 101,28 poin atau 1,70 persen ke level 5.839,785. Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual masif pada saham-saham berkapitalisasi besar sejak awal sesi, yang sempat mendorong indeks menyentuh titik terendah harian di 5.644,234. Meskipun terjadi pemulihan menjelang penutupan, IHSG tetap berakhir di zona merah dengan volatilitas tinggi.
Mayoritas emiten terseret arus pelemahan, tercatat sebanyak 623 saham ditutup turun, jauh melampaui 106 saham yang menguat, sementara 85 saham lainnya stagnan. Aktivitas perdagangan tetap ramai dengan volume transaksi mencapai 38,59 miliar saham dan nilai transaksi Rp 24,65 triliun, serta frekuensi perdagangan sebanyak 2,27 juta kali. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini berada di level Rp 10.284,95 triliun.
Menanggapi gejolak pasar, Penjabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa fundamental pasar modal Indonesia masih kokoh. “Kami mencermati perkembangan pasar dalam dua hari ini… Kami mengingatkan investor untuk mengambil keputusan investasi secara rasional, memperhatikan fundamental, dan berinvestasi sesuai profil risiko,” ujarnya di Gedung BEI, Kamis sore. Ia menyoroti tiga faktor kunci: kondisi fundamental yang baik, pertumbuhan laba emiten yang positif, dan pentingnya disiplin risiko.
Jeffrey memaparkan bahwa berdasarkan laporan keuangan seluruh emiten hingga akhir 2025, perusahaan tercatat membukukan pertumbuhan laba lebih dari 21 persen. Data ini menjadi sinyal bahwa tekanan jual saat ini lebih bersifat sentimen jangka pendek ketimbang cerminan kerapuhan ekonomi. Investor diharapkan tidak terjebak pada aksi panik dan tetap berpegang pada analisis fundamental emiten.
Dari sisi dampak bisnis, pelemahan IHSG yang signifikan berpotensi memicu koreksi lebih lanjut jika tekanan eksternal, seperti kekhawatiran nilai tukar dan sentimen global, masih dominan. Meski demikian, pernyataan BEI diharapkan mampu meredam kepanikan dan mendorong investor institusional untuk melakukan akumulasi saham di harga murah. Pasar akan mencermati data makroekonomi dan laporan keuangan kuartal pertama 2026 sebagai katalis pemulihan selanjutnya.

