EinsNews, JAKARTA — Goldman Sachs (GS) memperkirakan laju imbal hasil saham global akan melambat dalam waktu dekat, namun menegaskan bahwa setiap koreksi yang terjadi justru harus dimanfaatkan sebagai peluang beli. Pandangan ini disampaikan dalam laporan strategi investasi terbaru mereka, yang menyoroti kombinasi antara valuasi yang sudah relatif tinggi dan ketidakpastian makroekonomi.
Menurut analis GS, perlambatan imbal hasil terutama didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi yang lebih lama, perlambatan pertumbuhan laba perusahaan, serta tekanan dari valuasi ekuitas yang sudah berada di kisaran atas. Meski demikian, mereka menilai fundamental ekonomi global masih cukup solid untuk mencegah terjadinya penurunan tajam secara berkepanjangan. Dengan kata lain, risiko koreksi lebih bersifat siklis dan temporer.
GS menekankan bahwa investor sebaiknya tidak panik saat pasar terkoreksi, karena momen tersebut menyediakan titik masuk yang menarik untuk saham-saham berkualitas. Mereka merekomendasikan fokus pada sektor-sektor defensif dan perusahaan dengan neraca keuangan yang kuat, terutama di tengah volatilitas suku bunga. Strategi akumulasi bertahap dinilai paling tepat untuk memanfaatkan dislokasi harga jangka pendek.
Dari sisi pasar saham Indonesia, potensi perlambatan imbal hasil global juga berpotensi memicu aksi jual asing dalam jangka pendek. Namun, jika koreksi terjadi, investor domestik dapat memanfaatkannya untuk masuk ke saham-saham berkapitalisasi besar dengan valuasi yang sudah turun ke level wajar. Secara keseluruhan, pandangan GS memberikan sinyal bahwa volatilitas bukanlah ancaman, melainkan peluang bagi investor yang disiplin.

