Harga Bitcoin masih tertahan jauh di bawah rekor tertinggi $126.000 yang tercatat pada Oktober 2025. Di tengah ketidakpastian pasar, kekhawatiran baru muncul di kalangan investor: bagaimana nasib aset kripto terbesar ini jika pasar saham global mengalami crash besar? Sejumlah analis keuangan melihat potensi koreksi signifikan, dengan Bitcoin berisiko kembali menguji area $60.000—level terendah dalam 52
Harga Bitcoin masih tertahan jauh di bawah rekor tertinggi $126.000 yang tercatat pada Oktober 2025. Di tengah ketidakpastian pasar, kekhawatiran baru muncul di kalangan investor: bagaimana nasib aset kripto terbesar ini jika pasar saham global mengalami crash besar? Sejumlah analis keuangan melihat potensi koreksi signifikan, dengan Bitcoin berisiko kembali menguji area $60.000—level terendah dalam 52 minggu terakhir—apabila terjadi aksi jual massal di bursa saham, terutama di Amerika Serikat.
Tekanan tersebut dipicu oleh valuasi indeks S&P 500 yang masih berada di atas rata-rata historisnya. Jika aksi ambil untung besar-besaran terjadi, aset berisiko seperti Bitcoin diperkirakan ikut terpapar. Dalam skenario bearish, level $60.000 menjadi support kritis yang perlu dipertahankan. Namun, analis mencatat bahwa fase koreksi bukanlah akhir dari tren jangka panjang Bitcoin. Sejarah membuktikan bahwa Bitcoin telah melewati beberapa siklus penurunan tajam sebelum akhirnya mencetak rekor baru.
Siklus 2017, misalnya, harga sempat melonjak mendekati $20.000 sebelum anjlok ke sekitar $3.100 pada periode crypto winter 2018–2020. Pada siklus berikutnya, Bitcoin bangkit dari $3.800 ke puncak $69.000 pada 2021, kemudian tertekan lagi hingga ke $15.500 pada 2022–2023. Kini, dalam siklus saat ini, Bitcoin bergerak dalam rentang $38.500 hingga $126.000. Pola ini menunjukkan bahwa koreksi besar justru kerap menjadi awal dari fase pemulihan yang lebih kuat.
Faktor fundamental jangka panjang tetap mendukung pertumbuhan Bitcoin. Mekanisme halving yang mengurangi pasokan baru setiap empat tahun, meningkatnya partisipasi investor institusi, serta narasi Bitcoin sebagai emas digital di tengah kekhawatiran terhadap nilai mata uang fiat menjadi katalis utama. Dengan lebih dari 20 juta BTC telah ditambang dari total pasokan maksimal 21 juta, kelangkaan aset ini semakin terasa. Meskipun tekanan jangka pendek dari koreksi pasar saham patut diwaspadai, track record Bitcoin selama satu dekade terakhir—dengan kenaikan lebih dari 13.600%—menunjukkan ketahanan yang sulit diabaikan.















Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *