EinsNews, JAKARTA – Pergerakan harga Bitcoin kembali menunjukkan tekanan signifikan setelah jatuh ke level US$62.500, menandai penurunan lebih dari 50% dari rekor tertingginya pada September 2025. Koreksi tajam ini terjadi di tengah gelombang aksi jual di sektor saham teknologi global, yang turut mempengaruhi sentimen investor terhadap aset kripto. Tekanan berasal dari kekhawatiran atas valuasi saham
EinsNews, JAKARTA – Pergerakan harga Bitcoin kembali menunjukkan tekanan signifikan setelah jatuh ke level US$62.500, menandai penurunan lebih dari 50% dari rekor tertingginya pada September 2025. Koreksi tajam ini terjadi di tengah gelombang aksi jual di sektor saham teknologi global, yang turut mempengaruhi sentimen investor terhadap aset kripto.
Tekanan berasal dari kekhawatiran atas valuasi saham teknologi yang overvalued, ditambah dengan sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral utama. Ketika investor melepas posisi di saham seperti Tesla dan Meta, arus modal keluar juga menyeret aset berisiko lainnya, termasuk Bitcoin. Data on-chain menunjukkan peningkatan volume transfer ke bursa, mengindikasikan kecenderungan investor untuk merealisasikan laba atau memotong kerugian.
Dari segi analisis teknikal, level US$60.000 kini menjadi support krusial. Jika gagal bertahan, para analis memperkirakan Bitcoin berpotensi menguji area US$55.000 sebelum menemukan dasar yang lebih solid. Sementara itu, data volatilitas harian Bitcoin melonjak ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, menandakan ketidakpastian pasar yang masih tinggi.
Dalam konteks pasar yang lebih luas, korelasi antara Bitcoin dan indeks saham teknologi, khususnya Nasdaq, kembali menguat. Hal ini membuat pergerakan Bitcoin rentan terhadap sentimen makroekonomi dan laporan pendapatan perusahaan teknologi ke depan. Investor disarankan untuk mencermati rilis data inflasi AS pekan depan yang dapat memicu pergerakan lebih lanjut.














Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *