Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta resmi menahan tiga petinggi PT Lunaria Annua Teknologi (LAT), perusahaan di balik platform pinjaman daring KoinWorks, dalam kasus dugaan korupsi penyaluran kredit. Ketiga tersangka adalah BAA, Direktur Operasional sejak 2021; BH, Direktur Utama periode 2015–2022 yang kini menjabat Komisaris; serta JB, Direktur Utama yang menjabat sejak 2024. Mereka diduga memanipulasi pengajuan
Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta resmi menahan tiga petinggi PT Lunaria Annua Teknologi (LAT), perusahaan di balik platform pinjaman daring KoinWorks, dalam kasus dugaan korupsi penyaluran kredit. Ketiga tersangka adalah BAA, Direktur Operasional sejak 2021; BH, Direktur Utama periode 2015–2022 yang kini menjabat Komisaris; serta JB, Direktur Utama yang menjabat sejak 2024. Mereka diduga memanipulasi pengajuan kredit yang melibatkan salah satu bank BUMN melalui kerja sama dengan fintech tersebut.
Merespons perkembangan hukum ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) langsung mengambil langkah strategis dengan memanggil seluruh pemegang saham KoinWorks. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa pemanggilan ini bertujuan untuk memastikan tanggung jawab pemegang saham dalam menjaga kelangsungan operasional perusahaan. “Termasuk memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (6/5/2026).
OJK menekankan bahwa keberlangsungan usaha KoinWorks tetap melekat pada pemegang saham, terutama dalam situasi kritis seperti saat ini. Sementara itu, Kepala Departemen Surveillance dan Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi OJK, Agus Firmansyah, menyatakan pihaknya mendukung penuh proses penegakan hukum yang berjalan. “OJK terus mengawasi secara intensif KoinWorks sebagai Penyelenggara Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI),” tegasnya dalam keterangan tertulis, Jumat (8/5/2026).
Di sisi lain, manajemen KoinWorks menyatakan akan menghormati proses hukum dan menjunjung asas praduga tak bersalah. Kasus ini menjadi ujian serius bagi industri fintech Indonesia, karena mencoreng kepercayaan investor dan nasabah terhadap sektor pinjaman daring. Dengan pengawasan ketat OJK, langkah ini diharapkan mampu memitigasi risiko sistemik dan memastikan akuntabilitas seluruh pemangku kepentingan.














Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *