Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami kejutan besar pada awal sesi II, Jumat ini, dengan ambles hingga 204,7 poin atau 3,51% ke level 5.635—terendah dalam lebih dari lima tahun terakhir. Penurunan ini dipicu oleh kejatuhan seluruh sektor saham, di mana sektor infrastruktur memimpin dengan koreksi 5,12%, disusul sektor keuangan yang melemah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami kejutan besar pada awal sesi II, Jumat ini, dengan ambles hingga 204,7 poin atau 3,51% ke level 5.635—terendah dalam lebih dari lima tahun terakhir. Penurunan ini dipicu oleh kejatuhan seluruh sektor saham, di mana sektor infrastruktur memimpin dengan koreksi 5,12%, disusul sektor keuangan yang melemah 4,31%, serta sektor energi dan transportasi yang masing-masing turun 4% dan 4,95%. Sektor konsumer primer ikut tertekan dengan pelemahan 3,79%, mencerminkan aksi jual masif di hampir semua lini.
Saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) menjadi bulan-bulanan tekanan jual. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ambrol lebih dari 5,5% ke Rp5.125, sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) anjlok 4,68% ke Rp3.260. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga ikut tergerus dengan pelemahan di atas 2%. Di luar sektor perbankan, saham seperti BREN, PANI, CBDK, MORA, dan DCII turut merosot tajam, memperparah indeks yang sudah dalam tren bearish.
Penurunan dramatis ini melampaui kinerja indeks-indeks Asia lainnya pada hari yang sama. Secara year-to-date (YTD), IHSG telah terkoreksi hampir 35%, menandai salah satu koreksi terdalam dalam sejarah pasar modal Indonesia. Sehari sebelumnya, IHSG sudah ditutup turun 1,70% ke 5.839 dengan catatan penjualan bersih (netsell) oleh investor asing mencapai Rp1,27 triliun. Saham BBCA kembali menjadi sasaran utama dengan netsell Rp475,51 miliar, disusul BBRI sebesar Rp451,67 miliar dan TPIA senilai Rp257,51 miliar.
Analis pasar melihat tekanan ini berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk kekhawatiran perlambatan ekonomi global serta aksi jual spekulatif di tengah ketidakpastian kebijakan moneter. Meski demikian, beberapa saham justru mencatat penguatan signifikan, seperti PT Estika Tata Tiara Tbk (ESTI) yang melesat 34,58% ke Rp144 dan PT MSIN yang naik 24,45% ke Rp570, namun tak mampu membendung sentimen negatif di pasar secara keseluruhan. Investor diimbau untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi dan potensi pelemahan lanjutan dalam jangka pendek.














Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *