Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah terpantau masih ambruk di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), posisinya semakin rawan lanjut melemah sehingga pelemahan rupiah ini menjadi beban bagi perusahaan yang memiliki banyak utang dalam mata uang dolar AS. Melansir data Refinitiv, pada hari ini, Jumat (5/6/2026) hingga pukul 11.00 WIB, rupiah bertengger di Rp18.025/US$, sudah melemah 8,04%
Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah terpantau masih ambruk di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), posisinya semakin rawan lanjut melemah sehingga pelemahan rupiah ini menjadi beban bagi perusahaan yang memiliki banyak utang dalam mata uang dolar AS.
Melansir data Refinitiv, pada hari ini, Jumat (5/6/2026) hingga pukul 11.00 WIB, rupiah bertengger di Rp18.025/US$, sudah melemah 8,04% secara sepanjang tahun ini. Posisi Ini adalah sekali lagi menjadi posisi terlemah sepanjang masa.
Hal ini diakibatkan oleh banyaknya sentimen negatif di pasar global mulai dari ketidakpastian keadaan geopolitik global, potensi kenaikan nilai inflasi, dan juga outflow yang terjadi di pasar keuangan dalam negeri baik saham maupun surat utang.
Hal ini membebankan biaya yang besar pada pengusaha atau perusahaan yang punya bisnis impor karena beban untuk memasok bahan baku akan melambung lebih tinggi akibat terkena selisih kurs.
Perusahaan lain yang cenderung dirugikan juga ketika rupiah melemah, adalah yang memiliki uang berdenominasi dolar AS dan juga mata uang lainnya.
Berikut ada beberapa emiten yang rawan buntung ketika rupiah melemah beserta perbandingannya ketika Rupiah baru menembus Rp17.110/US$ dibanding dengan harga saat ini di Rp18.010/US$:
1. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menjadi salah satu emiten yang terekspos dampak fluktuasi nilai tukar rupiah.
Melansir dari laporan keuangan hingga akhir 2025, ICBP memiliki total liabilitas mata uang asing per 31 Desember 2025, dengan penyesuaian kurs Rp17.110 per Dolar AS, adalah sekitar Rp48,60 triliun dan sekarang naik ke level Rp51,12 triliun.
Komponen terbesar berasal dari Obligasi Global senilai US$2,75 miliar yang setara dengan Rp47,05 triliun menjadi Rp49,53 triliun. Kewajiban Dolar AS lainnya, termasuk utang usaha, tercatat sebesar US$46,41 juta atau setara Rp794,07 miliar menjadi Rp835,84 miliar.
Sisa liabilitas dalam mata uang lainnya, seperti Riyal Arab Saudi, Lira Turki, dan Yen Jepang, memiliki total nilai kumulatif sekitar Rp754,70 miliar.
Hingga periode laporan tersebut, tidak terdapat kebijakan lindung nilai (hedging) formal yang diterapkan untuk memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar mata uang asing ini.
Selanjutnya terdapat induk usaha ICBP yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang juga memiliki eksposur terhadap fluktuasi rupiah.
Total liabilitas mata uang asing INDF per 31 Desember 2025, dengan penyesuaian kurs Rp17.110 per Dolar AS, mencapai se… [content truncated]














Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *