EinsNews, JAKARTA – Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam beberapa pekan terakhir terus tertekan oleh sejumlah sentimen eksternal, mulai dari ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga energi, hingga arah kebijakan suku bunga global. Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar dinilai perlu mengalihkan fokus dari gejolak jangka pendek ke fundamental perusahaan. CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Suryawijaya,
EinsNews, JAKARTA – Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam beberapa pekan terakhir terus tertekan oleh sejumlah sentimen eksternal, mulai dari ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga energi, hingga arah kebijakan suku bunga global. Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar dinilai perlu mengalihkan fokus dari gejolak jangka pendek ke fundamental perusahaan.
CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Suryawijaya, menilai bahwa pelemahan IHSG saat ini lebih banyak dipicu oleh sentimen negatif yang bersifat sementara, baik dari dalam maupun luar negeri. “Terlalu banyak informasi negatif yang belum tentu kebenarannya, sehingga seolah-olah menjadi kebenaran. Ini membuat investor kehilangan fokus pada data dan kinerja fundamental emiten,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tidak semua aksi jual di pasar merupakan respons terhadap sentimen negatif; sebagian menjadi bagian dari mekanisme pasar seperti margin call atau setelah periode cum-dividen.
Menurut William, investor sebaiknya kembali menilai saham berdasarkan kekuatan bisnis, kesehatan neraca keuangan, serta kemampuan emiten dalam menghasilkan arus kas berkelanjutan. Beberapa sektor yang masih menarik perhatian antara lain perbankan, telekomunikasi, energi, dan utilitas. Di sektor energi, emiten dengan aset infrastruktur strategis dan posisi pasar kuat menjadi sorotan, seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Analis Bahana Sekuritas dalam risetnya menyebut fundamental bisnis PGAS semakin solid, didukung potensi laba dari anak usahanya di sektor hulu migas, Saka Energi Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia diperkirakan dapat meningkatkan profitabilitas Saka Energi dan berdampak positif pada kinerja konsolidasi PGAS. Bahana memperkirakan laba inti PGAS pada akhir tahun ini dapat tumbuh sekitar 3% secara tahunan menjadi US$ 332 juta, dengan rekomendasi Buy dan target harga Rp 2.300 per saham.
Kondisi pasar yang volatil justru membuka peluang bagi investor yang mampu memilah saham berdasarkan fundamental. Dengan mengabaikan noise jangka pendek, pemilihan emiten yang tepat di sektor-sektor defensif dinilai dapat memberikan imbal hasil yang lebih stabil dalam jangka panjang.














Leave a Comment
Your email address will not be published. Required fields are marked with *