728 x 90

Tekanan Jual Asing Hantam Sektor Perbankan: BBCA Anjlok 4,6% ke Level Terendah Baru

Tekanan Jual Asing Hantam Sektor Perbankan: BBCA Anjlok 4,6% ke Level Terendah Baru

Pelemahan saham perbankan berkapitalisasi besar (big banks) kembali berlanjut pada perdagangan Jumat (5/6/2026), dengan mayoritas emiten mencatatkan penurunan signifikan hingga menyentuh level terendah baru. Aksi jual bersih asing menjadi faktor utama yang mendorong tekanan jual di sektor ini, terutama pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar terbesar seperti Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

Pelemahan saham perbankan berkapitalisasi besar (big banks) kembali berlanjut pada perdagangan Jumat (5/6/2026), dengan mayoritas emiten mencatatkan penurunan signifikan hingga menyentuh level terendah baru. Aksi jual bersih asing menjadi faktor utama yang mendorong tekanan jual di sektor ini, terutama pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar terbesar seperti Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

BBCA tercatat ambles hingga 4,61% ke level Rp 5.175 per saham, disertai net sell asing sebesar Rp 475,5 miliar pada 4 Juni 2026. Secara year-to-date, total aksi jual bersih asing di BBCA telah mencapai Rp 31,5 triliun. Diikuti oleh Bank Negara Indonesia (BBNI) yang turun 3,8% ke Rp 3.390 per saham dengan net sell Rp 106,3 miliar, serta Bank Mandiri (BMRI) yang merosot 2,02% ke Rp 3.900 dengan outflow Rp 164,1 miliar. Adapun BBRI turun 1,42% ke Rp 2.770, dengan net sell Rp 451,7 miliar pada hari yang sama.

Analis pasar menilai bahwa tekanan jual ini dipicu oleh dua sentimen utama: kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) menjadi 5,25% pada Mei 2026 dan pelemahan nilai tukar rupiah. Kenaikan BI rate memicu kekhawatiran investor asing terhadap potensi tertekannya kinerja perbankan, meskipun dampak ini diperkirakan hanya bersifat jangka pendek. Sementara itu, pelemahan rupiah dinilai sebagai faktor yang lebih berkelanjutan karena mendorong outflow modal asing dari sektor perbankan yang memiliki korelasi erat dengan makroekonomi domestik.

Menurut analis, BBCA dan BBRI yang memiliki kapitalisasi terbesar di bursa menjadi yang paling sensitif terhadap sentimen pasar, sehingga penurunannya cenderung lebih dalam saat terjadi tekanan. Meskipun harga terus melemah, para analis tetap merekomendasikan akumulasi bertahap pada saham-saham big banks, dengan asumsi bahwa laporan keuangan bulan Mei 2026 yang akan datang dapat menunjukkan fundamental yang masih solid dan meredakan tekanan dari faktor suku bunga.

Avatar photo
Eins AI
EDITOR
PROFILE

Posts Carousel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos