Industri reksadana mencatat divergensi kinerja yang tajam antar kelas aset pada Mei 2026. Di tengah tekanan yang melanda pasar saham dan obligasi domestik, reksadana pasar uang justru berhasil membukukan imbal hasil positif. Kondisi ini mempertegas pola flight to quality di kalangan investor yang mulai menghindari aset berisiko.
Berdasarkan data Infovesta, reksadana pasar uang mencatat imbal hasil sebesar 0,27% secara month-on-month (MoM) pada Mei 2026. Secara year-to-date (YTD), kinerja kelas aset ini tumbuh 1,60%. Sementara itu, reksadana saham dan campuran mengalami koreksi cukup dalam akibat aksi jual di pasar ekuitas dan obligasi pemerintah. Pelemahan tersebut dipicu oleh ekspektasi pengetatan kebijakan moneter serta kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa investor mulai mengalihkan portofolio ke instrumen yang lebih likuid dan berisiko rendah. Reksadana pasar uang menjadi pilihan utama karena mampu memberikan imbal hasil stabil di tengah volatilitas pasar. Ke depan, pergerakan suku bunga acuan dan data inflasi akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah kinerja reksadana saham dan obligasi, sementara reksadana pasar uang diproyeksikan tetap menjadi safe haven jangka pendek.

