Pasar saham Indonesia masih tergolong selektif seiring dengan aksi demonstrasi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan potensi pergerakan mata uang rupiah. Namun, wacana konsolidasi antara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menunjukkan peluang emiten menara telekomunikasi yang semakin membaik.
Konsolidasi tersebut dinilai berpotensi menjadi katalis baru bagi industri menara setelah pertumbuhan permintaan menara dan penambahan tenant cenderung moderat dalam beberapa tahun terakhir. Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Daniel Aditya Widjaja menyatakan, jika merger MTEL dan TBIG terealisasi, entitas hasil penggabungan akan mengelola sekitar 65.800 menara dan 106.100 tenant dengan tenancy ratio sekitar 1,61 kali.
Daniel juga menyebutkan, kombinasi MTEL dan TBIG memiliki potensi sinergi karena karakteristik geografis kedua perusahaan relatif saling melengkapi. Mitratel memiliki konsentrasi aset yang lebih besar di luar Jawa, sedangkan TBIG mempunyai eksposur yang lebih besar di Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat potensi tumpang tindih aset dalam proses konsolidasi dinilai relatif terbatas.
Dari sisi operasional, konsolidasi juga berpotensi memperbesar skala jaringan serta memperkuat posisi tawar perusahaan menara dalam bernegosiasi dengan operator telekomunikasi. Dengan skala yang lebih besar, perusahaan hasil konsolidasi memiliki peluang untuk memperoleh efisiensi dan posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi kontrak maupun perpanjangan kontrak.
Dalam konteks ini, investor dapat melihat peluang sektoral pada industri infrastruktur telekomunikasi. Konsolidasi dinilai dapat memperbaiki prospek pertumbuhan sektor tersebut sekaligus menciptakan efisiensi dan skala ekonomi yang lebih besar.
**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** MTEL, TBIG
* **Sentimen Negatif:** –
*Tanggal Source Berita: Kamis, 27 Agustus 2026 20:32:06 WIB*