Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten perkebunan kelapa sawit bersiap menghadapi musim kemarau panjang atau Godzilla El Niño yang diperkirakan akan melanda Indonesia pada akhir 2026 hingga awal 2027.
Fenomena alam ini akan mempengaruhi harga dan volume produksi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang pada gilirannya akan berimbas terhadap kinerja keuangan emiten sektor perkebunan sawit.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat bahwa saat ini terjadi kenaikan biaya pupuk sekitar 30%-50% yang akan semakin menekan produksi CPO di tengah kemarau panjang. Produksi CPO tahun ini diperkirakan akan turun 1-2 juta ton dari basis produksi 2025 mencapai 51,7 juta ton.
Analis Samuel Sekuritas Ahnaf Yassar menjelaskan bahwa kondisi ini membentuk pola klasik El Niño trade, yakni volume produksi CPO turun, tapi harganya naik. Dia mencatat, secara historis saham-saham emiten sawit akan cenderung mengungguli pasar ketika harga CPO naik karena adanya leverage terhadap harga, meskipun tonase produksi menurun.
Malaysian Palm Oil Council (MPCO) telah memperkirakan ekspor CPO Indonesia akan turun hingga 1,7 juta ton pada kuartal kedua hingga ketiga tahun ini. Namun, harga CPO diestimasi bisa melonjak ke level US$1.500 per ton akibat kombinasi faktor El Niño dan kebijakan B50.
“Berdasarkan analisis sensitivitas kami, setiap kenaikan harga CPO sebesar 10% akan meningkatkan rata-rata laba bersih 2027 sebesar 37%, dengan AALI sebagai penerima manfaat terbesar,” ujar Ahnaf, dikutip Senin (24/8/2026).
Menilik kinerja emiten sawit, perusahaan seperti PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG), PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG), PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP), hingga PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) kompak mencatat pertumbuhan yang solid sepanjang semester pertama 2026.
Dari sisi top line, LSIP menjadi emiten dengan pertumbuhan pendapatan terbesar mencapai 15,87% year on year (YoY) menjadi Rp2,69 triliun. Namun dari sisi nilai, AALI menjadi emiten dengan pendapatan terbesar mencapai Rp15,26 triliun, tumbuh 5,62% YoY.
Sementara di sisi bottom line, pertumbuhan laba bersih terbesar dicatat oleh AALI yang laba bersihnya tumbuh 56,51% YoY menjadi Rp1,10 triliun. Namun, nilai diukur dari nilainya, laba bersih tertinggi diraih TAPG dengan nilai Rp2,04 triliun, tumbuh 20,44% YoY.
Dari sisi profitabilitas, TAPG menjadi emiten dengan net profit margin (NPM) tertinggi di antara keempat emiten CPO ini, yakni sebesar 34,84%, disusul LSIP… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Selasa, 25 Agustus 2026 12:19:37 WIB*