Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam bisnis pusat data atau data center, dengan kapasitas teknologi informasi (IT load) yang terpasang di seluruh negeri diproyeksikan meningkat dari sekitar 580 megawatt (MW) saat ini menjadi 3,5 gigawatt (GW) pada tahun 2030. Riset BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (Compound Annual Growth Rate/CAGR) mencapai sekitar 56,7% dari tahun 2026 hingga 2030.
Pertumbuhan tersebut dipicu oleh meningkatnya kebutuhan layanan cloud dan pembangunan infrastruktur berbasis graphics processing unit (GPU) untuk mendukung kebutuhan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Di antara emiten yang disorot dalam bisnis ini, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT DCII Indonesia Tbk (DCII) ditemukan sebagai emiten dengan eksposur langsung terhadap pertumbuhan bisnis pusat data.
Telkom Indonesia, salah satu emiten yang disorot melalui NeutraDC, bisnis pusat data milik perseroan, telah mencatatkan rencana divestasi 70% saham NeutraDC dengan valuasi sekitar US$1 miliar-US$1,5 miliar atau sekitar Rp17,7 triliun-Rp26,5 triliun. Indosat juga ditemukan memiliki eksposur terhadap bisnis AI neocloud melalui BDx Indonesia dan Zankore.
Riset tersebut memperkirakan bahwa PT Indosat Tbk (ISAT) memiliki sekitar 30% kepemilikan di Zankore dan 25% saham di BDx Indonesia. DSSA, sisi lain, telah mengembangkan bisnis pusat data melalui SMX01, fasilitas yang ditargetkan untuk mencapai kapasitas operasional sekitar 18 MW pada kuartal IV tahun 2026 dan dapat dikembangkan hingga 60 MW. DCII Indonesia Tbk (DCII), sebagai perusahaan pure-play pusat data terbesar dalam daftar emiten yang disorot, saat ini memiliki kapasitas operasional sekitar 128 MW dengan pipeline pembangunan mencapai lebih dari 1.000 MW di Bintan.
Jika dipandang dari persentase kapasitas pusat data terdalam dibandingkan emiten lain yang disorot, DCII diperkirakan memiliki pipelining terdalam. Dari total kapasitas pusat data Indonesia saat ini, sekitar 55% berada di Jakarta dengan kota tersebut mencapai kapasitas operasional sekitar 322 MW dan pipeline mencapai 1,7 GW.
Rasio pipeline terhadap kapasitas operasional Jakarta mencapai 5,3 kali. Ini menunjukkan bahwa masih ada ruang yang besar untuk penambahan pusat data di Indonesia, yang mungkin akan disorot oleh investasi asing dalam beberapa tahun ke depan.
**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** TLKM, ISAT, DSSA, DCII
* **Sentimen Negatif:** –
*Tanggal Source Berita: Senin, 24 Agustus 2026 17:05:00 WIB*