Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
16 Agustus 2026 13:00 WIB·waktu baca 4 menit
Bursa saham Singapura mencatat penguatan signifikan sepanjang 2026. Indeks acuan Straits Times Index (STI) menembus serangkaian rekor tertinggi, didukung pertumbuhan ekonomi yang kuat serta kinerja perusahaan yang membaik.
Mengutip dari Bloomberg, Minggu (16/8), indeks acuan Straits Times Index (STI) telah melonjak sekitar 23 persen sepanjang tahun ini. Penguatan tersebut melanjutkan kenaikan serupa pada 2025 dan membuat bursa Singapura menuju penguatan selama lima kuartal berturut-turut, menjadi rentetan kenaikan terpanjang dalam satu dekade.
Kinerja tersebut tidak terlepas dari kondisi ekonomi Singapura yang dinilai semakin mendukung pasar saham. Pertumbuhan yang didorong ekspor teknologi, ditambah peningkatan produktivitas yang membantu menjaga inflasi tetap terkendali, ikut meningkatkan prospek pendapatan perusahaan.
JPMorgan menyebut kombinasi tersebut sebagai kondisi ekonomi “Goldilocks”, yaitu pertumbuhan yang cukup kuat tanpa tekanan inflasi yang berlebihan.
“Kondisi ekonomi yang ideal (Goldilocks) seharusnya terus mendukung pertumbuhan laba per saham dan memberikan ruang fiskal,” tulis analis JPMorgan, termasuk Khoi Vu, dalam catatannya.
Penguatan STI terutama ditopang tiga bank terbesar Singapura, yakni DBS Group Holdings, Oversea-Chinese Banking Corp. (OCBC), dan United Overseas Bank (UOB).
Ketiga bank tersebut telah mencatat serangkaian rekor tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu daya tariknya adalah eksposur terhadap industri manajemen kekayaan Singapura yang terus berkembang.
Dalam sebulan terakhir, ketiganya juga melaporkan pendapatan kuartal II yang melampaui perkiraan analis. Saham OCBC menjadi yang paling menonjol dengan kenaikan sekitar 61 persen sepanjang 2026. Hal ini menjadikannya saham dengan kinerja terbaik di antara 30 saham dalam STI.
Kepala Ekuitas ASEAN di BNP Paribas Asset Management menilai kondisi tersebut turut mengubah karakter pasar saham Singapura yang selama ini dikenal sebagai pasar dengan imbal hasil dividen tinggi dan cenderung defensif.
“Singapura secara bertahap berevolusi dari pasar dividen tradisional dan defensif menjadi pasar dividen plus pertumbuhan,” kata Ernest Chew, Kepala Ekuitas ASEAN di BNP Paribas Asset Management.
Selain kinerja saham, penguatan dolar Singapura juga menambah daya tarik pasar tersebut bagi investor.
Dolar Singapura telah menguat hampir 6 persen terhadap dolar AS dalam tiga tahun terakhir. Penguatan tersebut terjadi ke… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Minggu, 16 Agustus 2026 13:00:00 WIB*