Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Untuk Masuk dan Daftar akan kami arahkan ke laman Subscribe Investor Daily
JAKARTA, investor.id – Kinerja PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada semester I-2026 tetap solid di tengah tekanan margin. Sementara itu, di lantai bursa, saham BMRI terbilang murah meriah dengan potensi cuan hampir 30%.
Bank Mandiri, salah satu bank besar di Tanah Air, mencetak laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 30,4 triliun pada semester I-2026, meningkat 24,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menilai bahwa pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan, pendapatan non-bunga yang lebih kuat, serta pengelolaan beban yang disiplin menjadi penopang kinerja emiten berkode saham BMRI tersebut.
BMRI mencatatkan pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) sebesar 19,9%. PPOP menggambarkan laba operasional bank sebelum memperhitungkan biaya pencadangan kerugian kredit.
Dari sisi penyaluran kredit, total kredit Bank Mandiri mencapai Rp 1.677 triliun. Nilai kredit tersebut tumbuh 19,2% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya (year on year/yoy) atau naik 3,9% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter on quarter/qoq).
“Pertumbuhan kredit BMRI terutama didorong segmen korporasi dan komersial. Namun, komposisi kredit yang lebih banyak berasal dari segmen skala besar (wholesale) memberikan tekanan terhadap imbal hasil kredit,” tulis Liza dalam risetnya, dikutip pada Minggu (16/8/2026).
Kondisi tersebut akhirnya turut membebani margin bunga bersih (net interest margin/NIM). NIM merupakan rasio yang mencerminkan kemampuan bank menghasilkan pendapatan bunga bersih dari aset produktifnya.
Dari sisi pendanaan, rasio dana murah (current account savings account/CASA) BMRI tetap solid mencapai 69,2%. CASA menggambarkan porsi dana murah berupa giro dan tabungan terhadap total dana pihak ketiga.
Meski demikian, pertumbuhan deposito berjangka yang lebih cepat dan penyesuaian tingkat bunga simpanan mendorong biaya dana lebih tinggi. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan NIM konsolidasi Bank Mandiri menjadi 4,56%.
“Dengan demikian, meskipun pertumbuhan kredit dan laba masih kuat, biaya pendanaan menjadi salah satu titik tekanan utama bagi profitabilitas BMRI,” jelas Liza.
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
*Tanggal Source Berita: Minggu, 16 Agustus 2026 06:04:00 WIB*