Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Dua emiten perbankan berkapitalisasi pasar besar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dinilai berada dalam tingkat harga yang murah. Potensi keuntungan dari kedua saham bank pelat merah ini diproyeksikan dapat mencapai 46%, seperti dilansir dari Investor Daily.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas pada Minggu (9/8/2026), rasio price to earnings (PE) trailing twelve months (TTM) BMRI berada di level 6,3 kali. Sementara itu, rasio PE TTM untuk saham BBNI tercatat sebesar 6,5 kali. Kedua perbankan ini juga memiliki return on equity (ROE) yang terbilang solid.
Pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026), harga saham BMRI mengalami kenaikan 0,9% menuju level Rp 4.240, yang menandakan penguatan 1,19% dalam sepekan. Di sisi lain, harga saham BBNI terangkat 0,2% ke posisi Rp 3.630, atau menguat 2,8% sepanjang pekan tersebut.
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham Bank Mandiri dengan target harga Rp 6.200. Proyeksi tersebut memberikan indikasi potensi upside atau cuan sebesar 46,2% jika dihitung dari harga penutupan terakhir.
Penetapan target harga saham BMRI menggunakan pendekatan inverse cost of equity (CoE) lima tahun sebesar 11,6%. Perhitungan riset tersebut turut mengasumsikan tingkat pertumbuhan jangka panjang (long-term growth) di level 3%.
Nilai target tersebut mencerminkan rasio fair value price to book value (FV PBV) sebesar 1,8 kali. Meski demikian, risiko utama terhadap pandangan ini berasal dari tingginya harga minyak dunia dalam jangka panjang yang berpotensi menekan margin bunga bersih (NIM) serta kualitas aset.
Kinerja finansial BMRI pada kuartal II-2026 tercatat melampaui estimasi analis. Bank Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp 15 triliun pada kuartal II-2026, atau mengalami pertumbuhan 33% secara tahunan (year on year), meski terkoreksi tipis 2% secara kuartalan (quarter on quarter).
MNC Sekuritas juga memberikan rekomendasi beli untuk saham BBNI dengan target harga mencapai Rp 5.100. Target ini mengimplikasikan potensi kenaikan harga hingga 40,5% dari posisi harga saat ini.
Target harga BBNI mengimplikasikan estimasi price to book value (PBV) sebesar 0,9 kali sepanjang periode 2026-2027. Angka tersebut dirancang menggunakan asumsi pertumbuhan laba yang moderat, yakni 5,4% YoY pada 2026 dan 12,2% YoY pada 2027.
Risiko utama yang perlu diwaspadai pemegang saham BBNI mencakup pelemahan kondisi ekonomi makro di luar perkiraan serta kemungkinan pemburukan kualitas aset perbank… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Minggu, 09 Agustus 2026 11:26:22 WIB*