Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
JAKARTA, Investortrust.id — Kondisi fundamental perekonomian Indonesia dinilai masih cukup kuat di tengah tekanan tajam yang melanda pasar saham sepanjang 2026. Sejumlah indikator makro, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, kualitas kredit perbankan hingga cadangan devisa, masih menunjukkan ketahanan meskipun rupiah melemah dan suku bunga meningkat.
Pandangan tersebut disampaikan Fikrian Naufal H dari Research Division Bursa Efek Indonesia (BEI/IDX) dalam acara Media Connect yang digelar PT Samuel Sekuritas Indonesia di Jakarta, Jumat (07/08/2026). Keterangan dan data dalam berita ini bersumber dari paparan IDX dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia pada tanggal tersebut.
“Secara fundamental, kondisi Indonesia masih sangat baik. Jika dibandingkan dengan periode krisis seperti 1998, posisi suku bunga saat ini masih jauh lebih terkendali. Tantangan memang ada, terutama dari tekanan global dan domestik, tetapi indikator makro Indonesia tetap menunjukkan ketahanan,” ujar Fikrian.
Dari sisi global, menurut dia, investor masih menghadapi ketidakpastian akibat ketegangan geopolitik, risiko inflasi, arah suku bunga global, serta reli saham-saham teknologi berbasis artificial intelligence (AI). Dalam materi IDX, harga minyak mentah global disebut meningkat 21% secara tahunan, sementara inflasi Amerika Serikat berada di level 3,7% dan core personal consumption expenditures (PCE) sebesar 3,3%.
Kondisi tersebut membuat ekspektasi terhadap kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat masih bertahan. Suku bunga yang tinggi lebih lama atau higher for longer berpotensi mempertahankan tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia, terutama melalui pergerakan arus modal, nilai tukar, dan pasar obligasi serta saham.
Tekanan eksternal itu beriringan dengan sejumlah persoalan di dalam negeri. Pelaku pasar masih mencermati risiko fiskal, pelemahan rupiah, arah kebijakan Bank Indonesia (BI), perkembangan kebijakan indeks MSCI, serta rencana kebijakan ekspor satu pintu untuk sejumlah komoditas strategis.
Rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 7,3% secara year-to-date (YTD) hingga Juli 2026. Untuk merespons perkembangan ekonomi dan pasar keuangan, BI telah menaikkan suku bunga kebijakan sebanyak tiga kali pada Mei-Juni 2026, dengan total kenaikan 100 basis poin menjadi 5,75%.
Namun, menurut Fikrian, kondisi tersebut belum menunjukkan pelemahan fundamental ekonomi seperti yang terjadi pada periode krisis. Salah satu perbedaannya terlihat dari… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Sabtu, 08 Agustus 2026 06:02:00 WIB*