Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja keuangan emiten badan usaha milik negara (BUMN) menunjukkan perbaikan pada semester I-2026. Namun, penguatan fundamental tersebut belum diikuti pemulihan harga saham yang masih diperdagangkan jauh di bawah level tertingginya.
Analis menilai kondisi ini justru membuka peluang investasi karena valuasi saham BUMN relatif murah. Meski begitu, dampak keberadaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) terhadap kinerja emiten pelat merah dinilai masih terbatas.
Hingga 6 Agustus 2026, setidaknya 11 emiten BUMN telah merilis laporan keuangan semester I-2026 dengan hasil yang beragam.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan laba konsolidasian Rp 30,41 triliun atau naik 24,3% secara tahunan (year on year/YoY).
Meski pendapatan bunga bersih (NII) turun 7,84% menjadi Rp 48,33 triliun dan penyaluran kredit terkoreksi tipis 1,3% menjadi Rp 1.674 triliun, Bank Mandiri berhasil memperbaiki kualitas aset. Rasio kredit bermasalah (NPL) turun menjadi 0,98% dari 1,08% pada periode yang sama tahun lalu.
Pada perdagangan Kamis (6/8), saham BMRI ditutup di level Rp 4.200, turun 0,47% dalam sehari dan masih melemah 17,24% sejak awal tahun.
Sementara itu, PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan lonjakan laba bersih hingga 804,7% YoY menjadi Rp 2,71 triliun.
Kinerja tersebut ditopang kenaikan pendapatan sebesar 147,26% menjadi Rp 10,41 triliun, didukung peningkatan volume penjualan logam timah hingga 85% menjadi 10.984 metrik ton serta kenaikan harga jual rata-rata menjadi US$ 49.794 per metrik ton.
Direktur Utama Timah, Restu Widiyantoro, menyebut peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan optimalisasi operasional menjadi faktor utama pendorong kinerja.
Baca Juga: Pemegang Saham Sentul City (BKSL) Jual 1,32 Miliar Saham Saat Harga Reli, Ada Apa?
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) juga membukukan kinerja yang membaik.
Pendapatan perseroan naik 35,1% YoY menjadi US$ 622,74 juta. KRAS berhasil membalikkan posisi dari rugi menjadi laba bersih US$ 10,94 juta setelah memperoleh keuntungan dari restrukturisasi utang dan divestasi aset.
Di sektor telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatat pendapatan konsolidasi Rp 75,9 triliun atau tumbuh 3,9% YoY.
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 1,4% menjadi Rp 10,6 triliun.
Meski fundamental masih solid, saham TLKM terkoreksi 23,63% secara year to date (YTD) dan ditutup di level Rp 2.650 pada pe… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Jumat, 07 Agustus 2026 05:00:21 WIB*