Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
JAKARTA, KOMPAS.com – Indeks Kompas100 melakukan rebalancing atau kocok ulang dalam evaluasi mayor Agustus ini.
Terdapat sembilan emiten baru yang menggantikan emiten yang sebelumnya masuk jajaran indeks Kompas100.
Salah satu emiten yang tergantikan dari Kompas100 adalah emiten perbankan Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS).
Sebagai catatan, dalam setahun terakhir saham BTPS bergerak pada rentang harga 855-1.530.
“BTPN Syariah mencetak laba terkuatnya dalam enam kuartal. Hal ini didukung oleh provisi yang lebih rendah, pertumbuhan pembiayaan yang pulih, dan kualitas aset yang membaik,” tulis riset RHB Sekuritas.
Baca juga: Prospek Saham HM Sampoerna (HMSP) Usai Tak Lagi Masuk Indeks Kompas100
BTPS mencatatkan laba kuartal terkuatnya dalam enam kuartal, dengan laba bersih pada semester I-2026 naik 5,3 secara kuartalan dan 0,9 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp 336 miliar.
Ini membawa laba semester I-2026 menjadi Rp 655 miliar, atau naik 1,7 persen secara tahunan.
“Jumlah ini mencapai 49 persen dari perkiraan kami dan kondisi untuk full year 2026, seiring ketentuan yang lebih rendah mengurangi tekanan margin dan pendapatan operasional yang lebih lemah,” tulis riset tersebut.
Riset RHB Sekuritas merekomendasikan buy untuk saham BTPS dengan target di level 1.410.
Manajemen menaikkan panduan pertumbuhan laba sepanjang 2026 menjadi dua digit, dengan kelompok pinjaman diperkirakan akan menguat di paruh kedua 2026.
Bauran dana murah atau current account saving account (CASA) yang lebih baik diharapkan mendukung biaya dana, tetapi kompresi net interest margin (NIM) dan beban operasional yang tinggi tetap menjadi risiko utama.
Dengan rasio kecukupan modal Capital Adequacy Ratio (CAR) di level 58,7 persen, buyback saham yang lebih besar atau payout ratio dividen yang lebih tinggi dapat menjadi katalis re-rating yang signifikan.
Riset RHB Sekuritas mengungkapkan, pertumbuhan pembiayaan kembali mendapatkan momentum.
Pembiayaan tumbuh 8,7 persen secara tahunan (yoy) atau 3,8 persen secara kuartalan menjadi Rp 11,0 triliun, didukung oleh pemulihan pinjaman kelompok dan pembiayaan Lembaga Keuangan Non-Bank (LKNB) tenor pendek sebesar Rp 1,5 triliun.
Manajemen memperkirakan pembiayaan kelompok akan mengekspansi secara kuartalan pada kuartal III-2026 dan kuartal IV-2026, setelah periode Idul Fitri yang secara musiman lebih lemah.
*Tanggal Source Berita: Rabu, 05 Agustus 2026 12:42:00 WIB*