Dampak Pelemahan Rupiah ke UNVR, MYOR, ICBP, dan MAPI: Cek Rekomendasi Sahamnya

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah hingga kembali bergerak di atas level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi tantangan bagi sejumlah emiten, terutama yang masih bergantung pada bahan baku maupun barang impor.

Beberapa emiten seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), berpotensi mengalami kenaikan biaya yang berpotensi dapat menggerus margin laba.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, pelemahan rupiah tentu menjadi tantangan, terutama yang memiliki eksposur impor cukup besar terhadap bahan baku, bahan penolong, maupun produk jadi.

“Kenaikan biaya dalam denominasi dolar AS berpotensi menekan margin laba apabila perusahaan tidak dapat sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen (pass-through pricing),” ungkap nafan kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).

Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (3/8): Naik Rp 7.000 Jadi Rp 2.610.000 Per Gram

Namun demikian, Nafan bilang, dampaknya tidak akan sama bagi seluruh emiten. Perusahaan dengan posisi kas yang kuat, lindung nilai (hedging) yang baik, skala ekonomi besar, serta kekuatan merek (pricing power) umumnya lebih mampu menjaga profitabilitas dibandingkan perusahaan yang daya tawarnya lebih terbatas.

Menurut Nafan, di antara sejumlah emiten itu, MAPI menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap pelemahan rupiah. Pasalnya, sebagian besar merek yang dipasarkan MAPI berasal dari luar negeri sehingga biaya pembelian barang dagangannya masih memiliki eksposur valuta asing yang cukup besar.

Kendati demikian, per Juni 2026, MAPI membukukan pendapatan bersih Rp 24,16 triliun atau naik 23,36% secara tahunan. Laba bersih MAPI juga meningkat mencapai Rp 1,21 triliun di paruh pertama 2026. Ini tumbuh 26,49% secara tahunan dari Rp 960,92 miliar.

Sementara itu, MYOR menurut Nafan, menghadapi tekanan dari sisi bahan baku impor seperti kakao, kopi, susu, gula rafinasi, hingga material kemasan tertentu.

MYOR mencatatkan, pertumbuhan penjualan 0,7% YoY menjadi Rp 17,92 triliun, dari Rp 17,80 triliun pada semester I-2025. Sejalan dengan itu, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 46,53% YoY menjadi Rp 1,71 triliun, dibandingkan Rp 1,17 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Ada pun ICBP masih bergantung akan sejumlah bahan baku impor, teruta… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Senin, 03 Agustus 2026 08:48:37 WIB*