Simak Prospek Emiten BUMN20 Pasca Evaluasi Indeks

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja emiten pelat merah dianggap masih prospektif pasca evaluasi indeks IDXBUMN20.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan hasil evaluasi mayor Indeks IDXBUMN20 yang akan berlaku efektif mulai 5 Agustus 2026 hingga 2 Februari 2027.

Hasil evaluasi menunjukkan tidak ada perubahan konstituen. Namun, BEI melakukan penyesuaian jumlah saham untuk penghitungan indeks dan bobot sejumlah emiten.

Baca Juga: Penjualan SBN Ritel pada Tahun 2026 Telah Mencapai Rp 94,54 Triliun

Beberapa saham mengalami kenaikan bobot setelah evaluasi, antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi 10,78% dari sebelumnya 10,04%, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menjadi 6,92% dari 6,45%, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menjadi 3,86% dari 3,60%.

Di sisi lain, sejumlah saham berbobot besar mengalami penyesuaian turun akibat penerapan batas maksimal (cap) 15%, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi 15,00% dari 16,30%, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi 15,00% dari 15,84%, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi 15,00% dari 15,68%, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi 15,00% dari 15,63%.

Per 30 Juli 2026, IDXBUMN20 turun 18,27% sejak awal tahun alias year to date (YTD). Sebagai perbandingan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 28,46% YTD.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menilai, penyebab evaluasi indeks itu adalah perubahan metodologi BEI dalam dalam pembobotan yang mana BEI menerapkan batas maksimum bobot yang dimiliki satu konstituen Indeks maksimal 15%.

Dengan aturan ini, maka saham yang sebelumnya memiliki bobot di atas 15% diturunkan menjadi 15%. Kemudian, bobot hasil pengurangan didistribusikan ke konstituen lainnya.

“Dampaknya tidak signifikan mempengaruhi harga sahamnya yang berkaitan dengan aksi jual-beli pasca penyesuaian bobot. Sebab, IDXBUMN20 belum banyak digunakan para manajer investasi,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (30/7/2026).

Baca Juga: El Nino Bikin Haus Pasar AMDK, Tapi Analis Ingatkan Laba Emiten Belum Ikut Tumbuh

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, perubahan bobot IDXBUMN20 cerminkan relative market cap dan liquidity, bukan masalah fundamental perusahaan.

Komposisi ANTM, PGAS, dan PTBA naik lantaran harga saham mereka out perform didorong harga komoditas emas, batubara, dan gas yang naik.

Sementara, BBRI, BBNI, BMRI, dan TLKM turun karena harga sahamnya under perform, tetapi bukan karena kinerja fundamental mereka mem… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Kamis, 30 Juli 2026 19:19:36 WIB*