Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Bisnis.com, JAKARTA —Musim laporan keuangan semester I/2026 segera bergulir. Di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, analis memperkirakan sektor perbankan, barang konsumsi primer (consumer staples), dan telekomunikasi akan menjadi penopang utama pertumbuhan laba emiten. Sebaliknya, sektor energi, real estat, hingga sebagian komoditas diproyeksikan masih menghadapi tekanan.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai kinerja emiten berkapitalisasi besar (big caps) pada semester I/2026 masih akan bervariasi.
Menurut Nico, sektor perbankan tetap menjadi penopang utama laba emiten berkat pertumbuhan kredit yang solid dan kualitas aset yang terjaga, meskipun margin bunga mulai menghadapi tekanan akibat suku bunga yang masih tinggi.
Nico juga menyebut sektor consumer staples, khususnya produsen pangan dan unggas seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), diperkirakan mencatat pertumbuhan laba yang kuat seiring normalisasi harga bahan baku yang memperbaiki margin.
“Sektor konstruksi BUMN berpeluang menunjukkan perbaikan seiring percepatan penyelesaian proyek dan efisiensi operasional,” ucap Nico, Kamis (23/7/2026).
Senada, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi memproyeksikan sektor consumer staples akan menjadi pemimpin pertumbuhan laba pada 2026 dengan kenaikan sekitar 19% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Menurut dia, implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi katalis utama yang berpotensi mendongkrak volume penjualan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY).
Selain sektor consumer staples, Wafi memperkirakan sektor telekomunikasi akan membukukan pertumbuhan laba sekitar 17% YoY, didukung ekspansi bisnis pusat data (data center) dan penyesuaian tarif (repricing).
Sementara itu, sektor kesehatan dan material diproyeksikan masing-masing mencatat pertumbuhan laba sekitar 12% YoY.
“Khusus untuk sektor material, kenaikan harga komoditas akibat meningkatnya war premium, diperkirakan menjadi penopang kinerja,” ucap Wafi.
Di sisi lain, Wafi memperkirakan sektor energi dan real estat menjadi sektor dengan tekanan laba terbesar pada semester I/2026. Laba sektor energi diproyeksikan turun sekitar 7% YoY, sedangkan sektor properti diperkirakan terkoreksi sekitar 8% YoY.
Hingga Kamis (23/7/2026), baru sejumlah emiten big caps anggota indeks LQ45 yang telah menyampaikan lap… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Minggu, 26 Juli 2026 06:52:39 WIB*