Analis Merekomendasikan Beli Saham BCA Saat Melemah

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
KB Valbury Sekuritas merekomendasikan strategi pembelian saat harga turun (buy on weakness) untuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) jelang perdagangan Senin (27/7/2026). Penilaian strategis ini dilansir dari Investor Daily guna memaksimalkan potensi keuntungan para pemodal.

Para pemodal disarankan masuk pada kisaran harga Rp 6.175 hingga Rp 6.275 per lembar saham. Untuk aktivitas perdagangan harian, target harga saham BBCA dipatok pada level Rp 6.350.

Berdasarkan analisis teknikal, batas atas atau level resistance saham BBCA berada di posisi Rp 6.350, sementara level support atau batas bawah berada di Rp 6.175.

“Waspada jika harga menembus Rp 6.175. Stop loss di level Rp 6.000,” tulis KB Valbury Sekuritas dalam ulasannya, yang dikutip pada Minggu (26/7/2026).

Pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026), harga saham bank swasta tersebut berada di posisi Rp 6.275. Pergerakan saham BBCA mencatatkan penurunan sebesar 3,09 persen dalam sepekan terakhir, tetapi menguat 2,45 persen dalam satu bulan, dan terkoreksi 22,29 persen sepanjang periode year to date (ytd).

KB Valbury Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk jangka panjang dengan target harga sebesar Rp 9.480 berdasarkan perhitungan valuasi Gordon Growth Model (GGM). Target tersebut mencerminkan estimasi price to book value (P/B) 2026 sebesar 3,8 kali, sedangkan saat ini saham BBCA diperdagangkan pada P/B 2,5 kali yang berada di bawah level minus dua standar deviasi (-2SD).

Di sisi lain, Kiwoom Sekuritas turut memberikan rekomendasi beli saham BBCA menggunakan pendekatan gabungan metode price to book value (P/BV) dan dividend discount model (DDM). Lembaga sekuritas tersebut menetapkan target harga saham BBCA sebesar Rp 8.075 untuk jangka waktu 12 bulan ke depan.

Target harga yang diproyeksikan oleh Kiwoom Sekuritas mencerminkan P/BV 2026 sebesar 3,3 kali. Potensi risiko investasi ini meliputi tekanan margin bunga bersih (NIM) yang berkepanjangan, pertumbuhan kredit yang lambat, serta kondisi makroekonomi yang kurang mendukung.

*Tanggal Source Berita: Minggu, 26 Juli 2026 09:10:17 WIB*