Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
KOMPAS.com – Saham perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan besar sepanjang pekan ini.
Saham Alphabet, induk Google, dan Tesla menjadi dua emiten yang paling terpukul setelah nilai pasar keduanya menyusut hampir 500 miliar dollar AS atau sekitar Rp 8.961 triliun (asumsi kurs Rp 17.922 per dollar AS).
Dilansir dari Yahoo Finance, Sabtu (25/7/2026), pelemahan saham tersebut mencerminkan berubahnya cara pandang investor terhadap perlombaan investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Baca juga: Trader Token Saham AS di PINTU Naik 18 Persen, ETF Makin Diminati
Jika sebelumnya pasar mengapresiasi belanja AI yang besar, kini investor mulai mempertanyakan seberapa besar keuntungan yang bisa dihasilkan dari investasi tersebut.
Sepanjang pekan, Alphabet, Microsoft, Amazon, Meta, dan Tesla—lima perusahaan dengan belanja AI terbesar—mencatat penurunan harga saham rata-rata sekitar 9 persen.
Sebaliknya, saham perusahaan pemasok infrastruktur AI, mulai dari produsen chip, pembuat server hingga pengelola pusat data (data center), justru melonjak rata-rata 11 persen.
Alphabet sebenarnya membukukan laporan keuangan yang solid. Pendapatan perusahaan tumbuh 24 persen secara tahunan, sedangkan bisnis Google Cloud melonjak 82 persen.
Namun, kinerja tersebut tidak cukup memuaskan investor.
Saham Alphabet justru turun sekitar 8 persen sehingga memangkas kapitalisasi pasarnya sekitar 330 miliar dollar AS atau setara Rp 5.914 triliun.
Baca juga: Google Cloud Melesat 82 Persen, Mengapa Saham Alphabet Malah Turun?
Pasar lebih menyoroti lonjakan belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan yang meningkat hampir dua kali lipat menjadi 45 miliar dollar AS atau sekitar Rp 806,5 triliun.
Belanja tersebut bahkan melampaui arus kas yang dihasilkan perusahaan sehingga arus kas bebas (free cash flow), menjadi negatif untuk pertama kalinya sejak Alphabet tercatat di bursa saham.
Kekhawatiran investor semakin besar setelah manajemen Alphabet kembali menaikkan target belanja AI tanpa memberikan batas pengeluaran untuk 2027.
AFP/PEDRO PARDO Mobil listrik Tesla Model YL saat dipamerkan di Beijing, China, 3 Februari 2026.
Tekanan serupa juga dialami Tesla. Meski pendapatan produsen mobil listrik itu melampaui ekspektasi analis, laba bersihnya jauh di bawah perkiraan.
Margin operasinya juga menyusut menjadi 1,4 persen, turun dari 4,1 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Akibatnya, saham Tesla anjlok 18 persen dalam sepekan. Nila… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Sabtu, 25 Juli 2026 22:15:00 WIB*