Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis (23/7) dengan pelemahan tipis 0,30% ke 6.315,31, berbalik melemah setelah sempat menguat di sesi pertama.
Nilai total transaksi di pasar saham Indonesia mencapai Rp23,94 triliun, meningkat hampir 30% dari Rp18,52 triliun pada Rabu (22/7). Volume saham yang diperdagangkan mencapai 63,3 miliar lembar dan frekuensi perdagangan 3,19 juta kali.
Analis Phintraco Sekuritas menilai penguatan IHSG sebelumnya didukung optimisme pasar, atas prospek ekonomi Indonesia.
“Namun berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah pada level tertinggi selama enam pekan terakhir, membuat para pelaku pasar cenderung mulai berhati-hati dan melakukan trading jangka pendek,” jelas analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan usai penutupan perdagangan.
Mengutip data Bloomberg, harga minyak mentah WTI melonjak hampir 3,7% ke US$90,03 per barel hingga pukul 16.20 WIB. Sementara minyak Brent naik lebih dari 4,5% ke US$98,39 per barel seiring meningkatnya tensi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Meskipun demikian, sebagian besar indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap menguat, dipimpin oleh sektor properti yang mencatat kenaikan 3,13%. Namun sektor industri, kesehatan, konsumer siklikal, kesehatan, dan keuangan bergerak melemah.
Saham-saham perbankan dengan kapitalisasi pasar terbesar juga kompak melemah. Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 3,46%, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 1,36%, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 0,66%.
Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah juga kembali melemah 0,11% terhadap dolar AS dan bertahan di level RpRp17.936. Mata uang lain dari kawasan emerging market Asia Pasifik bergerak variatif terhadap dolar AS. (KR)
*Tanggal Source Berita: Kamis, 23 Juli 2026 16:35:00 WIB*