Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Bisnis.com, JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyampaikan emiten cenderung memperpendek tenor penerbitan surat utang sebagai salah satu strategi di era suku bunga dan yield acuan yang menanjak.
Head of Economic Research Division Suhindarto, menerangkan strategi memendekkan surat utang dilakukan emiten untuk menekan biaya pendanaan, dengan harapan kondisi pasar keuangan relatif lebih stabil dan suku bunga mencapai posisi tertingginya pada tahun ini.
“Hal ini sudah mulai terlihat gejalanya di pasar. Penerbitan yang tenor 3 tahun ke atas, itu sudah mengalami perlambatan. Yang 1 tahun justru mengalami kenaikan,” kata Suhindarto dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (22/7/2026).
Selain itu, strategi emiten dalam menerbitkan surat utang di tengah tingginya suku bunga, juga dilakukan dengan menurunkan nilai penerbitan. Emiten disebut menyesuaikan kebutuhan pendanaan mereka.
Meskipun begitu, Pefindo tetap optimistis bahwa penerbitan surat utang korporasi pada tahun ini masih akan semarak. Salah satu faktor yang mendasari adalah tingginya nilai jatuh tempo pada tahun ini.
”Jadi meskipun suku bunganya sudah tinggi atau meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya, penerbitan masih tetap berpotensi mengalami kondisi yang solid atau tetap berjalan dengan cukup baik biasanya karena didorong oleh jatuh tempo yang tinggi,” katanya.
Pefindo mencatat nilai jatuh tempo surat utang pada paruh kedua 2026 mencapai Rp107,51 triliun. Dengan begitu, Pefindo memprediksi penerbitan baru surat utang pada tahun ini akan mencapai titik tengah Rp175,77 triliun.
Di tengah era suku bunga tinggi, Pefindo juga menyoroti kemungkinan emiten bersikap wait and see terhadap penerbitan surat utang. Namun, tingginya jatuh tempo membuat emiten memilih menyesuaikan nilai dan tenor alih-alih menunda penerbitan.
”Jadi memang selain karena cost of fund yang tinggi, memang di satu sisi itu akan menimbulkan risiko tekanan pada besarnya nilai penerbitan, tetapi karena jatuh tempo yang tinggi, biasanya itu akan tetap dilakukan penerbitannya,” katanya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
*Tanggal Source Berita: Rabu, 22 Juli 2026 16:31:10 WIB*