Saham IPO Sering ARA Berkali-kali, Analis Ingatkan Ritel Jangan Terjebak Hype

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
JAKARTA, KOMPAS.com – Saham-saham yang baru mencatatkan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) kerap melonjak hingga menyentuh auto reject atas (ARA) berkali-kali pada awal masa perdagangannya.

Namun, di balik euforia tersebut, investor ritel diingatkan agar tidak terjebak hype karena valuasi emiten hasil IPO umumnya sudah berada pada level premium, sehingga pendekatan fundamental dinilai kurang tepat sebagai dasar pengambilan keputusan investasi.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menyarankan agar investor ritel tidak menggunakan pendekatan fundamental ketika ingin berinvestasi pada saham-saham yang baru go publik. Pasalnya, mayoritas saham yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperdagangkan dengan valuasi yang relatif premium.

“Jadi kalau kita mau ngomongin emiten-emiten yang IPO ya, saya rasa akan sangat sulit menggunakan pendekatan fundamental. Karena biasanya perusahaan-perusahaan yang IPO itu memiliki valuasi yang relatively premium,” ujar Imam dalam sesi wawancara dengan Kompas.com dalam program Obrolan Newsroom, Jumat (17/7/2026).

“Jadi kalau kita mau investasi di perusahaan-perusahaan IPO saya rasa agak kurang pas lah ya,” paparnya.

Baca juga: BEI: Ada 4 Calon Emiten Antre IPO, Dua Berasal dari Sektor Kesehatan

Justru, di luar saham IPO masih banyak saham emiten lain yang diperdagangkan pada valuasi lebih murah atau berada di bawah nilai wajarnya (undervalued), sehingga lebih menarik untuk investasi jangka panjang.

Imam menambahkan, tingginya valuasi saham IPO tidak terlepas dari besarnya antusiasme pasar. Secara historis, saham-saham IPO kerap menjadi pusat perhatian investor sehingga permintaannya sangat tinggi dan mendorong harga saham naik dalam waktu singkat.

Tingginya minat investor terhadap saham IPO membuat penawaran umum perdana kerap mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed). Antusiasme ini mendorong harga saham melonjak hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA) secara beruntun pada awal masa perdagangan.

Karena itu, ia mengingatkan investor ritel yang berorientasi jangka panjang agar lebih berhati-hati ketika membeli saham IPO. Tingginya valuasi membuat saham-saham tersebut kurang ideal dijadikan pilihan investasi.

“Kalau kita menggunakan pendekatan fundamental itu agak lumayan sulit dan memang kurang pas ya. Karena secara valuasi biasanya nggak masuk akal gitu. Nah penting juga buat teman-teman yang mau masuk di emiten-emiten IPO ya. Kalau misalkan niatnya m… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Minggu, 19 Juli 2026 18:00:00 WIB*