Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Eskalasi Timur Tengah yang memanas kembali menyita perhatian pelaku pasar. Pasalnya, Iran kembali menutup Selat Hormuz pada 12 Juli 2026 hingga waktu yang belum ditentukan.
Meski begitu, respons pasar saham domestik sejauh ini masih relatif terbatas dibandingkan saat eskalasi konflik pada semester pertama 2026. Ini tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada akhir perdagangan Jumat (17/7/2026), IHSG parkir di level 6.175,53 atau menguat 1,10% dibanding penutupan hari sebelumnya. Bahkan, IHSG mampu melonjak 4,24% dalam sepekan terakhir.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan, penutupan Selat Hormuz masih menjadi sentimen negatif bagi pasar Indonesia. Menurutnya, risiko tersebut belum dapat dianggap sepenuhnya diabaikan oleh pelaku pasar.
Baca Juga: IHSG Menguat 4,24% dalam Sepekan, Transaksi Harian BEI Melonjak 36,25%
Pada saat pengumuman penutupan Selat Hormuz oleh Iran, Kiwoom Sekuritas mencatat lalu lintas kapal tanker turun ke level terendah dalam dua bulan, sedangkan harga minyak Brent naik hampir 12% menjadi sekitar US$ 84 per barel.
Liza menyebut kondisi tersebut berpotensi menekan IHSG melalui pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya risiko inflasi, bertambahnya beban subsidi energi pemerintah, serta semakin terbatasnya ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga.
“Namun, reaksi pasar sekarang kemungkinan lebih selektif dibandingkan pada eskalasi awal semester I. Investor sudah lebih terbiasa dengan headline Hormuz dan baru akan melakukan broad-based sell-off apabila ada bukti gangguan fisik yang semakin parah,” ujar Liza kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).
Dia menjelaskan Indonesia juga telah mengurangi sebagian risiko gangguan pasokan minyak. Pemerintah mengalihkan sebagian impor minyak mentah ke Amerika Serikat dan Nigeria, sementara sekitar 70% impor LPG tahun ini diperkirakan berasal dari Amerika Serikat.
Baca Juga: Eskalasi Timur Tengah Kembali Memanas, Begini Prospek Harga Emas
“Karena itu, risiko terbesar bagi Indonesia saat ini bukan lagi kelangkaan pasokan energi. Dampak yang lebih perlu diwaspadai adalah kenaikan harga minyak yang dapat menekan kondisi fiskal sekaligus meningkatkan biaya produksi berbagai sektor usaha,” kata Liza.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan sentimen geopolitik memang mulai kurang direspons pela… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Minggu, 19 Juli 2026 13:19:28 WIB*