Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
KOMPAS.com – Saham Netflix anjlok lebih dari 10 persen pada perdagangan Jumat (17/7/2026) waktu Amerika Serikat.
Pelemahan terjadi setelah perusahaan memperkirakan pertumbuhan pendapatan yang lebih lambat pada kuartal berikutnya.
Sentimen negatif juga muncul setelah Netflix memutuskan mengurangi keterbukaan data jumlah penonton. Langkah itu memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan perusahaan.
Jika pelemahan saham bertahan hingga penutupan perdagangan Bursa Saham Nasdaq, kapitalisasi pasar Netflix berpotensi menyusut sekitar 35 miliar dollar AS atau sekitar Rp 628 triliun, dengan kurs Rp 17.943 per dollar AS.
Sebelum penurunan tersebut, valuasi Netflix mencapai sekitar 313 miliar dollar AS atau setara Rp 5.616 triliun.
Baca juga: Netflix, Disney, YouTube Berebut Hak Siar Piala Dunia FIFA, Nilainya Tembus Rp 35 Triliun
Netflix juga mengumumkan akan mengurangi frekuensi publikasi data jam tayang atau watch hours.
Mulai 2027, perusahaan hanya akan merilis data tersebut satu kali dalam setahun. Sebelumnya, laporan diterbitkan dua kali setahun.
Kebijakan itu menyusul keputusan pada tahun lalu untuk menghentikan publikasi jumlah pelanggan atau subscriber.
Akibatnya, investor kini memiliki lebih sedikit indikator untuk menilai kinerja perusahaan di tengah persaingan yang semakin ketat dari perusahaan media tradisional maupun YouTube.
“Setiap kali Anda menghilangkan satu poin data dari investor ketika hasilnya tidak sebaik sebelumnya, Anda akan dihukum oleh pasar,” kata Kepala Riset Teknologi Quilter Cheviot Ben Barringer.
Baca juga: Saham Netflix Anjlok 8 Persen Usai Proyeksi Kuartal III Meleset
Tekanan terhadap saham Netflix juga dipicu gagalnya upaya mengakuisisi Warner Bros pada awal tahun ini.
Kegagalan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sumber pertumbuhan perusahaan berikutnya. Keraguan semakin besar karena layanan streaming berbasis iklan yang selama ini diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru belum berkembang sesuai harapan.
Saham Netflix telah turun sekitar 44 persen sejak mencapai rekor tertinggi pada Juni 2025.
Sepanjang 2026, nilainya juga sudah merosot lebih dari 20 persen.
Analis menilai katalog konten Netflix tahun ini tidak sekuat tahun lalu.
Pada 2025, perusahaan menarik perhatian lewat musim terakhir serial fiksi ilmiah Stranger Things dan drama Korea Selatan Squid Game.
Direktur Riset Forrester Mike Proulx menilai keputusan Netflix mengurangi transparansi data justru memperbesar keraguan investor.
“M… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Sabtu, 18 Juli 2026 05:09:00 WIB*