BBCA: Saham Bangkit Setelah Penurunan Beruntun

Untuk Masuk dan Daftar akan kami arahkan ke laman Subscribe Investor Daily. JAKARTA, investornews.com – Pasar saham Indonesia melihat kenaikan signifikan di saham PT Bank Central Asia Tbk (BCAA), atau lebih dikenal dengan nama BBCA. Kenaikan ini terjadi setelah saham tersebut mengalami penurunan beruntun dalam beberapa waktu terakhir, mencapai sebesar 6,33% pada perdagangan Rabu (1 Juli 2026) setelah akses net sell saham mencapai Rp8,6 miliar di pukul 09.18 WIB. Kenaikan tersebut menandakan kembalinya kepercayaan investor asing yang telah meninggalkan posisi mereka selama beberapa bulan terakhir.

Investor asing telah membuy-belikan saham BBCA dengan total nilai transaksi beli bersih (net buy) mencapai Rp 698,29 miliar. Ini merupakan penjualan saham tertinggi dibandingkan dengan saham-saham lainnya yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara itu, transaksi jual bersih (net sell) terbanyak oleh investor asing dialami saham PT Astra International Tbk (ASII), mencapai Rp 162,5 miliar.

Rekomendasi beli dari Kiwoom Sekuritas mempertahankan posisi mereka pada saham BBCA. Penilaian saham ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan valuasi gabungan yang mengombinasikan metode price to book value (P/BV) dan dividend discount model (DDM). Dengan pendekatan tersebut, Kiwoom Sekuritas menetapkan target harga saham BBCA untuk 12 bulan ke depan sebesar Rp 8.075.

Target harga BBCA mencerminkan proyeksi P/BV 2026 sebesar 3,3 kali. Valuasi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan dengan P/BV tiga tahun terakhir yang mencapai 3,4 kali. Risiko utamanya jika tekanan NIM berlangsung lebih lama, pertumbuhan kredit lebih lemah dari perkiraan, serta kondisi ekonomi makro yang kurang mendukung.

Pada kuartal I-2026, BBCA mencetak laba yang tetap tangguh. Laba bersih BBCA pada kuartal I-2026 mencapai Rp 14,7 triliun, tumbuh 3,8% yoy dan 3,8% qoq. Pertumbuhan laba ditopang oleh peningkatan pendapatan non-bunga dan pengendalian biaya yang disiplin, meskipun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) turun menjadi 5,4%.

Sedangkan pertumbuhan kredit BBCA melambat, tetapi pendanaan tetap kuat. Total kredit mencapai Rp 993,8 triliun, meningkat 5,6% yoy dan 0,1% qoq, terutama ditopang oleh kredit korporasi, komersial, dan UKM.

Kondisi ini menunjukkan bahwa BBCA telah berhasil dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui posisinya sebagai salah satu perusahaan keuangan utama di Indonesia. Meskipun sahamnya mengalami penurunan beruntun sebelumnya, kenaikan yang signifikan ini menunjukkan bahwa investor asing kembali percaya pada pertumbuhan dan stabilitas dalam jangka panjang dari BBCA.

**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** BCAA
* **Sentimen Negatif:** –

*Tanggal Source Berita: Jumat, 17 Juli 2026 19:04:00 WIB*