Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki minggu ke-5 dengan peningkatan sebesar 2,28%, menunjukkan tren yang positif. Sementara itu, kondisi ekonomi Indonesia terus dipengaruhi oleh tingginya suku bunga dan ketidakpastian makroekonomi global.
Di tengah-tengah kenaikan IHSG, pasar keuangan Indonesia melihat saham-saham properti masih menjadi salah satu sektor yang paling tertekan. Dengan suku bunga yang tinggi, banyak emiten properti mengalami penurunan signifikan.
Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa indeks IDX Properties & Real Estate turun hingga 36,37% sejak awal tahun 2026. Ini tercermin dalam kinerja beberapa perusahaan yang berkapitalisasi besar seperti PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).
Analisis dari sejumlah firma pelatihan saham menunjukkan bahwa tekanan pada sektor properti tidak hanya disebabkan oleh kondisi fundamental perusahaan, tetapi juga faktor eksternal seperti situasi makroekonomi dan geopolitik yang mempengaruhi gaya investasi investor.
Menurut Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie, tekanan terhadap sektor properti lebih dominan disebabkan oleh ketidakpastian makro ekonomi dan geopolitik. Dengan tingginya suku bunga KPR (Kredit Pemilikan Rumah) menahan permintaan, banyak pengembang juga mengalami kesulitan dalam menjual properti di segmen yang lebih tinggi.
Di sisi lain, perusahaan-properti dengan pendapatan berulang dan bisnis yang solid masih bisa mencatatkan laba, meski penurunan terhadap valuasi sektor tersebut sangat signifikan.
**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** –
* **Sentimen Negatif:** CTRA, PANI, PWON
*Tanggal Source Berita: Kamis, 16 Juli 2026 07:21:10 WIB*