Pada tahun 2026, Eastspring Indonesia meramalkan laba perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencatatkan pertumbuhan hingga akhir tahun tersebut. Meskipun demikian, laju pertumbuhan kinerja keuangan korporasi masih diprediksikan berada pada level satu digit atau single-digit (single-digit growth). Direktur dari Eastspring Indonesia, Liew Kong Qian, menjelaskan bahwa tren ini dapat dicapai meski dihadapkan pada tekanan suku bunga yang tinggi dan dinamika harga energi. Menurutnya, rilis laporan keuangan pada periode berikutnya akan menjadi indikator penentu apakah pertumbuhan tersebut bisa dipertahankan atau justru direvisi turun. Dalam sektor sumber daya dan telekomunikasi, Eastspring Indonesia melihat potensi pertumbuhan yang signifikan karena rata-rata harga pasar yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, untuk sektor consumer staples, diperkirakan akan menerima topangan stimulus pemerintah yang diharapkan dapat menjaga kekuatan daya beli masyarakat. Di sisi lain, perbankan dinilai menghadapi tantangan operasional pada akhir tahun 2026 akibat pengetatan persaingan penghimpunan dana pihak ketiga dan tingkat suku bunga yang masih tinggi. Menurut Liew Kong Qian, pergerakan harga minyak menjadi faktor terkait yang perlu dicermati oleh Eastspring Indonesia untuk memprediksi dampaknya pada margin keuntungan sektor-sektor lain yang memiliki konsumsi energi atau bahan baku yang tinggi. Dalam hal pendekatan investasi, Eastspring Indonesia menitikberatkan pada pemilihan saham secara individual dari bawah ke atas (bottom-up stock selection). Strategi ini fokus pada emiten yang terbukti mampu menghasilkan pertumbuhan laba secara berkelanjutan.
**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** –
* **Sentimen Negatif:** –
*Tanggal Source Berita: Selasa, 14 Juli 2026 08:35:39 WIB*