Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
JAKARTA, KOMPAS.com – Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps) diperkirakan menjadi salah satu sektor yang paling diuntungkan, setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai sejumlah sektor berpotensi memperoleh manfaat dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia dengan prospek stabil.
Menurutnya, perbankan menjadi salah satu yang paling diuntungkan karena merepresentasikan kondisi ekonomi domestik dan merupakan sektor yang paling banyak dimiliki oleh investor asing.
Selain perbankan, sektor infrastruktur juga berpeluang mendapat sentimen positif mengingat sektor ini cukup sensitif terhadap biaya pendanaan dan persepsi risiko suatu negara.
“Perbankan, karena menjadi representasi utama ekonomi domestik dan paling banyak dimiliki investor asing. Kedua, infrastruktur, yang sensitif terhadap biaya pendanaan dan persepsi risiko negara,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Senin malam (13/7/2026).
Baca juga: IHSG Hari Ini (8/7) Dibuka Melemah ke Level 5.984,18, Saham Perbankan Memerah
Sementara itu, sektor konsumer berpotensi menguat apabila stabilitas ekonomi mampu menjaga daya beli masyarakat. Adapun sektor properti juga memiliki peluang memperoleh manfaat, terutama bila prospek stabil tersebut diikuti dengan penurunan suku bunga di dalam negeri.
“Konsumer, apabila stabilitas ekonomi mampu menjaga daya beli masyarakat. Lalu, properti, jika diikuti oleh penurunan suku bunga domestik,” paparnya.
Mengenai prospek saham berbasis komoditas, Nafan mencatat peluang penguatan tetap terbuka, apabila harga komoditas global mampu bertahan pada level yang tinggi.
Baca juga: Mau Beli Saham Infrastruktur, Ini Hal yang Perlu Diperhatikan Investor
Kondisi ini berpotensi meningkatkan penerimaan negara sekaligus memperbaiki neraca perdagangan Indonesia, sebagaimana turut menjadi perhatian dalam penilaian S&P.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa investor tetap perlu mencermati siklus harga masing-masing komoditas.
Pasalnya, kinerja emiten sektor pertambangan dan komoditas pada umumnya lebih dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas di pasar global dibandingkan semata-mata oleh perubahan persepsi terhadap peringkat utang (sovereign rating) Indonesia.
“Investor tetap harus memperhatikan siklus harga masing-masing komoditas karena kinerja emiten tambang tetap lebih dipengaruhi oleh dinamika … [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Selasa, 14 Juli 2026 05:08:00 WIB*