Pasar keuangan global berada di bawah tekanan pada Senin setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, menyebabkan kenaikan harga minyak mendorong kenaikan imbal hasil obligasi sekaligus menekan pasar saham di berbagai kawasan. Hal ini disebabkan oleh serangkaian aksi yang dilakukan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) terhadap Iran, termasuk penembakan ke kapal komersial di Selat Hormuz dan intervensi pada kapal-kapal lain yang melintasi jalur tersebut. Keputusan ini menyebabkan semakin meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang telah memicu kenaikan harga minyak.
Dalam laporan kebijakan moneter kepada Kongres, Bank Sentral AS (The Fed) menilai aktivitas ekonomi AS tetap tumbuh solid meski krisis tersebut masih berlangsung. Namun, inflasi semakin tinggi akibat peningkatan tarif, lonjaknya harga energi, dan bertambahnya permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI). Investor menantikan kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan DPR dan Senat Amerika Serikat, serta rilis data inflasi terbaru.
Di sisi lain, laporan kinerja keuangan perusahaan yang kuat mendorong minat investor terhadap aset berisiko. Kenaikan harga minyak mentah Brent mencapai 4,1 persen menjadi 79,10 dolar AS per barel setelah Teheran menutup Selat Hormuz dan melakukan intervensi terhadap kapal-kapal tersebut. Hal ini mengakibatkan peningkatan imbal hasil obligasi dan nilai tukar dolar AS sekaligus menekan harga emas.
Indeks Dow Jones Ind… [Content truncated]
**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** –
* **Sentimen Negatif:** –
*Tanggal Source Berita: Senin, 13 Juli 2026 22:06:04 WIB*