Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai level 6.177 pada perdagangan Senin (6/7/2026), naik sebesar 0,3% atau setara dengan 17,5 poin dibandingkan pekan sebelumnya. Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham yang telah melonjak tajam dan layak untuk diburu di pasar terbuka tersebut. Dalam analisis yang diterima pagi ini oleh Redaksi Majalah TopBusiness, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (Ipot), David Kurniawan, memaparkan sejumlah sentimen krusial dari kancah global hingga domestik yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar untuk menyusun strategi investasi ke depan. Dari panggung global, perhatian pasar tertuju pada eskalasi ketegangan di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam aksi saling serang secara terbuka. Konfrontasi militer ini langsung memicu kekhawatiran mendalam terkait potensi gangguan rantai pasok minyak mentah dunia, mengingat wilayah tersebut merupakan urat nadi jalur logistik energi global. Menghadapi tingginya ketidakpastian geopolitik ini, para investor global cenderung mengambil sikap risk-off dan bersikap konservatif dalam mengelola portofolio mereka. Mereka berbondong-bondong menarik modal dari instrumen berisiko tinggi seperti pasar saham dan aset kripto untuk mengamankan likuiditas. Arus dana global kini dialihkan secara masif ke aset-aset safe-haven yang dinilai lebih stabil dan tahan banting, seperti emas batangan dan mata uang dolar AS. Lonjakan permintaan ini diprediksi akan terus mendongkrak harga komoditas emas dan memperkuat nilai tukar dolar AS di pasar valuta asing dalam beberapa waktu ke depan. Di sisi lain, dari perspektif domestik, kondisi fiskal Indonesia masih menunjukkan fundamental yang terukur. Pemerintah secara resmi melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada paruh pertama tahun 2026 mencatatkan angka sebesar Rp196,5 triliun, atau setara dengan 0,76% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Secara regulasi, angka defisit ini berada dalam batas yang sangat aman karena jauh di bawah batas maksimal undang-undang sebesar 3%. Kendati demikian, David mengingatkan bahwa laju belanja negara yang lebih cepat dibandingkan penerimaan tetap memberikan sinyal kewaspadaan bagi otoritas fiskal. ‘Kondisi tersebut menuntut pemerintah untuk mengelola pembiayaan negara dengan jauh lebih ketat dan selektif di paruh…
**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** –
* **Sentimen Negatif:** –
*Tanggal Source Berita: Senin, 13 Juli 2026 08:47:00 WIB*