Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek pasar saham Indonesia pada Juli 2026 dinilai masih cukup menjanjikan meski dibayangi sentimen negatif dari S&P Global yang memasukkan pasar Indonesia ke dalam daftar watchlist.
Di tengah kekhawatiran tersebut, valuasi saham yang sudah murah, prospek laba emiten yang mulai membaik, serta peluang investasi di obligasi dan reksadana dinilai tetap memberikan daya tarik bagi investor.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menilai, sentimen dari S&P lebih banyak memengaruhi psikologi pasar ketimbang memicu arus keluar dana asing dalam jumlah besar.
Baca Juga: AllianzGI Memandang Pasar Obligasi Indonesia Tetap Menarik
Menurut dia, keputusan tersebut juga masih sebatas watchlist sehingga belum berdampak langsung terhadap status pasar Indonesia.
Di sisi lain, investor masih memiliki banyak pilihan instrumen investasi yang menarik, mulai dari saham, obligasi hingga reksadana pasar uang yang diuntungkan oleh tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Untuk pasar saham, Rudiyanto optimistis IHSG mampu mempertahankan kinerja positif sepanjang Juli 2026. Optimisme itu didukung oleh pola historis di mana sepanjang Juli 2016 hingga Juli 2025, IHSG selalu mencatatkan kenaikan.
Hingga pertengahan Juli tahun ini, indeks juga telah menguat sekitar 3% dan berpeluang menutup bulan dengan kinerja positif meski masih dibayangi sentimen eksternal.
“Saya cukup yakin sampai akhir bulan, meskipun ada sentimen negatif dari S&P Global, rasanya IHSG masih bisa ditutup dengan return positif di bulan Juli,” ujar Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto kepada KONTAN, Kamis (9/7/2026).
Baca Juga: Kinerja Obligasi Berisiko Volatil Jangka Pendek, Selektif Pilih Tenor SUN
Menurut Rudiyanto, salah satu penopang utama penguatan IHSG adalah musim rilis laporan keuangan semester I-2026, terutama dari sektor perbankan.
Berbeda dengan tahun lalu ketika pertumbuhan laba bank besar cenderung stagnan, hingga Mei 2026 sejumlah bank besar seperti Bank Mandiri, BRI dan BNI telah mencatat pertumbuhan laba mendekati bahkan di atas 10%.
Dari sisi valuasi, ia menilai pasar saham Indonesia saat ini berada pada level yang menarik untuk investasi jangka panjang. Banyak saham perusahaan berkualitas diperdagangkan dengan harga yang telah terdiskon signifikan dan menawarkan dividend yield di atas 10%.
Meski demikian, ia mengingatkan investor agar tidak berharap harga saham langsung melonjak dala… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Senin, 13 Juli 2026 04:35:49 WIB*